Mencari Peluang di Tengah Gempuran Hallyu

hallyu

Gambar diambil dari sini

Siapa yang diam-diam suka nonton k-drama atau secara sembunyi-sembunyi dengar lagu-lagu k-pop? Atau siapa yang sekarang mulai pakai kosmetik atau produk lain buatan Korea Selatan? Well, saya harus ngaku kalau saya salah satunya.

Tapi tentu saya nggak sendiri (membela diri). Ada banyak orang di dunia ini yang tergila-gila dengan produk-produk Korea, mulai dari drama, musik, selebriti yang cantik dan ganteng (meskipun hasil operasi plastik), kosmetik, hingga produk elektronik seperti smartphone.

Hampir tidak ada belahan bumi yang tidak terkena terpaan Korean wave. Bahkan Amerika Serikat yang begitu sulit ditembus oleh negara Asia ikut tersapu gelombangnya.

Mereka pernah dilanda demam Gangnam Style. Hingga hari ini video Psy menarikan tarian “naik kudanya” itu menjadi video paling banyak ditonton di YouTube. Video tersebut ditonton lebih dari dua miliar kali.

Demam Korea yang kini melanda banyak negara di dunia tidak dibangun dalam sehari. Pemerintah Korea Selatan sudah mempersiapkan hal tersebut selama bertahun-tahun dan budaya pop memainkan peran yang sangat besar. 

“Tidak ada negara yang tidak terpengaruh oleh budaya Korea, apakah itu dalam bentuk k-pop atau smartphone Samsung,” begitu kata Wayne Arnold, CEO global Lowe Profero menggambarkan pengaruh Korean wave seperti dikutip oleh Econonicdevelopment.org.

Tak bisa dipungkiri merek seperti Samsung, LG, dan Hyundai adalah merek-merek yang mengantarkan Korea Selatan menjadi salah satu negara dengan ekonomi terkuat di dunia. Penjualan tahunan Samsung tumbuh dari 1,3 juta miliar dolar AS pada tahun 1977 menjadi 213 miliar dolar AS pada tahun 2013.

Namun, budaya pop Korea adalah salah satu produk ekspor paling terkenal dari Korea Selatan. Mulai dari musik hingga drama laris manis bak kacang goreng.

Secara misterius orang-orang menggilai boyband dan girlband asal Korea Selatan. Sebut saja Suju, Big Bang, Girl’s Generation, 2NE1, CNBlue, 2AM, 2PM, JYJ, dan yang terbaru EXO (ketahuan penggemar nyebutinnya banyak banget).

Drama-drama korea itu juga terkenal bahkan di negara yang tidak disangka-sangka. Menurut Euny Hong, penulis buku The Birth of Korean Cool: How One Nation is Conquering the World Through Pop Culture, serial Jewel in the Palace sangat terkenal di Iran hingga mereka menyesuaikan jadwal makan dengan serial tersebut.

“Selama ini Korea Selatan memang mengeluarkan segala upaya dengan biaya miliaran dolar untuk menjadi eksportir budaya pop nomor satu di dunia,” begitu tulis Hong dalam bukunya. “Idenya adalah menciptakan supply, dan demand pun akan mengikuti dengan sendirinya. Itu memang bukan sebuah model sales yang intuitif,” lanjutnya.

Aksi Merek Menunggangi Gelombang Hallyu

Popularitas k-pop dan k-drama juga ternyata menguntungkan bagi brand. Merek-merek yang dipakai oleh para bintang di panggung maupun dalam drama laris diburu oleh para penggemar.

Sebagai contoh lipstik YSL yang dipakai oleh Jun Ji Hyun dalam drama My Love from the Star sold out secara internasional. Begitu juga dengan gaun Celine dan sepatu Jimmy Choo yang dipakai dalam drama yang sama.

Dampak yang besar ini cukup mengejutkan bagi para marketer dan tentunya tidak disia-siakan. Samsonite misalnya, langsung menggandeng aktor Kim Soo Hyun untuk meng-endorse backpack kulit terbaru mereka. Berkat itu, penjualan seluruh lini backpack Samsonite pada Februari 2014 membesar tiga kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya (The Wall Street Journal).

Samsonite mengharapkan penjualan tahunan backpack mereka di Asia dapat berlipat dua menjadi 60 juta dolar AS. “Mengasosiakan merek dengan bintang Korea muda ternyata dapat merejuvinasi perusahaan berusia satu abad menjadi merek yang lebih glamor,” kata Leo Suh, Presiden Samsonite Asia seperti dikutip oleh The Wall Street Journal.

Selain Samsonite, perusahaan lain yang juga melihat peluang di tengah demam korean wave atau istilah lainnya Hallyu adalah LVMH. Perusahaan barang mewah asal Prancis yang membawahi banyak merek besar seperti Louis Vuitton ini dikabarkan akan menginvestasikan dana sebesar 80 juta dolar AS kepada YG Entertainment, manajemen artis yang menaungi Psy, Big Bang, 2NE1, dan masih banyak lagi.

Belum jelas investasi tersebut akan menghasilkan kerja sama seperti apa, namun ini bukan kali pertama LVMH bekerja sama dengan YG Entertainment. Sebelumnya Louis Vuitton sudah pernah menjadi sponsor pakaian ketika G-Dragon, salah satu personil Big Bang meluncurkan album solo pertamanya pada tahun 2009. Itu menjadi kali pertama sebuah merek mewah mensponsori penyanyi Korea Selatan.

Sebenarnya tak mengherankan kalau makin banyak merek menggunakan selebriti Korea Selatan sebagai endorser mereka. Karena k-pop dan k-drama hampir selalu diterjemahkan sebagai pengaruh langsung dalam pembelian.

Para penggemarnya umumnya adalah die-hard fans yang bersedia membeli barang yang di-endorse bintang pujaannya demi mendapat pernak-pernik eksklusif. Inilah yang membuat merek tertarik memberikan sponsor atau menggandeng para hallyu star menjadi endorser mereka.

Di Indonesia sendiri demam k-pop dan k-drama masih cukup hangat. Konser-konser boyband dan girlband asal Negeri Ginseng itu masih penuh sesak. Berbagai merek kosmetik dan restoran asal Korea Selatan juga ramai-ramai buka cabang di tanah air. Mereka melihat Indonesia sangat potensial untuk memasarkan budaya pop mereka.

Ini jelas menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri bagi para marketer. Bagaimana mengalahkan hal ini agar produk lokal tidak tergilas? Bagaimana pula memanfaatkan gelombang ini untuk mendorong pemasaran produk lokal? Itu menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Tapi kita bisa belajar dari apa yang dilakukan oleh merek-merek global.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s