Beradaptasi atau Mati?

Adaptasi atau Mati

Foto diambil dari sini

Suatu pagi saya duduk ngobrol-ngobrol dengan salah satu teman. Awalnya kita hanya ngobrol ringan seputar kegiatan anak-anak – maklum kami ibu-ibu – dan kegiatan lari kami, tapi kemudian pembicaraan berpindah ke hal yang menarik. Soal pekerjaan. Topiknya adalah adaptasi atau mati.

Teman saya adalah seorang dokter gigi. Dia praktik di salah satu klinik gigi di bilangan Radio Dalam. Klinik tersebut adalah milik seorang dokter gigi senior dengan peralatan yang sangat canggih. Sayangnya, hal tersebut tidak didukung dengan kegiatan pemasaran yang sama canggihnya. Alhasilnya klinik tersebut tidak seramai yang diperkirakan.

Teman saya kemudian mengusulkan untuk membuat website dan akun media sosial. Awalnya ide ini diragukan oleh sang dokter gigi senior karena dia khawatir dengan risiko yang mungkin terjadi bila memiliki akun media sosial. Namun akhirnya sebuah akun di Facebook dan Instagram serta website pun dibuat supaya eksis di dunia maya.

Internet memang bisa menjadi hal yang sangat mengerikan bagi orang-orang yang lahir di masa kejayaan radio, koran, majalah, dan televisi. Kita akan selalu takut pada sesuatu yang tidak kenal. Itu hal yang sangat manusiawi.

Sayangnya, internet telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dan menjadi realitas bisnis hari ini. Suka atau tidak suka semua orang yang terjun dalam dunia bisnis harus menerima itu, tak peduli apapun bisnis mereka. Kalau mau survive dalam dunia bisnis hari ini, ya harus memeluk erat dunia maya. Benar-benar hadir di sana.

Beradaptasi atau mati. Cuma dua itu pilihan yang dimiliki pebisnis. Continue reading

Advertisements

Mencari Peluang di Tengah Gempuran Hallyu

hallyu

Gambar diambil dari sini

Siapa yang diam-diam suka nonton k-drama atau secara sembunyi-sembunyi dengar lagu-lagu k-pop? Atau siapa yang sekarang mulai pakai kosmetik atau produk lain buatan Korea Selatan? Well, saya harus ngaku kalau saya salah satunya.

Tapi tentu saya nggak sendiri (membela diri). Ada banyak orang di dunia ini yang tergila-gila dengan produk-produk Korea, mulai dari drama, musik, selebriti yang cantik dan ganteng (meskipun hasil operasi plastik), kosmetik, hingga produk elektronik seperti smartphone.

Hampir tidak ada belahan bumi yang tidak terkena terpaan Korean wave. Bahkan Amerika Serikat yang begitu sulit ditembus oleh negara Asia ikut tersapu gelombangnya.

Mereka pernah dilanda demam Gangnam Style. Hingga hari ini video Psy menarikan tarian “naik kudanya” itu menjadi video paling banyak ditonton di YouTube. Video tersebut ditonton lebih dari dua miliar kali.

Demam Korea yang kini melanda banyak negara di dunia tidak dibangun dalam sehari. Pemerintah Korea Selatan sudah mempersiapkan hal tersebut selama bertahun-tahun dan budaya pop memainkan peran yang sangat besar.  Continue reading

Era Digital, Eranya Pengukuran

pengukuran

Gambar diambil dari sini

Banyak marketer ragu masuk ke digital marketing. Padahal kita sudah tahu apa saja keuntungannya. Mungkinkah pengukuran solusinya?

Kehadiran teknologi digital telah menjungkirbalikan banyak hal dalam kehidupan kita. Mengubah banyak hal, dari cara kita berteman, berhubungan dengan orang lain, hingga mungkin mengasuh anak. Tentunya berubahnya gaya hidup masyarakat ikut mengubah wajah dunia bisnis dan sudah pasti pemasaran.

Ketika orang-orang hidup dan berkomunikasi melalui teknologi digital, sangat masuk akal bila kemudian pemasaran pun dilakukan melalui kanal-kanal digital. Hal ini tentu bukan berita baru bagi para entrepreneur dan pemasar. Kita mungkin sudah kenyang dicekoki tentang betapa besar kekuatan digital marketing.

Namun, pada kenyataannya digital marketing di Indonesia belum berkembang dengan baik. Kita baru berada di tingkat awal penggunaan digital marketing, termasuk di dalamnya pemanfaatan media sosial sebagai alat pemasaran.

Bahkan bujet iklan untuk digital saat ini tidak lebih dari 5%. Sebagai perbandingan, bujet untuk kanal digital di Eropa dan Amerika Serikat sudah mencapai angka 20%.

Bulan April 2013, Nielsen merilis laporan bertajuk 2013 Online Advertising Performance Outlook. Dari laporan tersebut ada beberapa hal yang menarik. Sebanyak 63% marketer menyatakan akan menaikkan bujet online branding mereka. Bahkan satu dari lima marketer menyatakan bahwa kenaikannya akan lebih dari 20%.

Sementara itu, 48% marketer akan memindahkan bujet promosi mereka dari televisi ke iklan online. Dan 70% marketer akan meningkatkan belanja iklan mereka di media sosial dan mobile. Wow. Bagaimana dengan kita?

Tak Kenal, Maka Tak Pede

Tentu ada alasan mengapa para marketer tersebut tanpa keraguan sedikit pun memindahkan alokasi bujet mereka dari media konvensional ke digital. Ketika kita sudah diyakinkan dan dibeberkan banyak bukti sukses digital marketing, namun tetap meragu pertanyaan-pertanyaan pun muncul.

Apa yang salah dari hal ini? Apa yang terlewatkan dari semua informasi tersebut? Continue reading

Saatnya Merek Lokal Punya Taji

wayang

Gambar diambil dari sini

Indonesia adalah bangsa yang besar dengan begitu banyak potensi. Tidak ada yang bisa mengingkari potensi Indonesia. Kekayaan alam melimpah, posisi geografis menguntungkan, bahkan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa pun menjadi potensi tersendiri.

Bagi dunia bisnis, jumlah penduduk sebanyak itu merupakan pasar yang sangat besar. Belum lagi kalau kita melihat demografi penduduk yang kebanyakan berusia produktif. Sebanyak 84% dari total populasi Indonesia berusia di bawah 50 tahun. Sungguh aset yang sangat berharga. Tak mengherankan bila pihak asing begitu tergiur untuk masuk ke Indonesia.

Masalahnya, kita acap kali tidak menyadari apa yang kita miliki sampai orang lain mengambilnya. Ingat kan bagaimana semua orang ribut dan marah-marah ketika “tetangga sebelah” mengklaim kesenian daerah kita? Padahal sebelum itu boro-boro membicarakannya, sebagian mungkin lupa kalau Reog, Angklung, dan Tari Pendet itu punya kita.

Hal yang sama berlaku pada dunia bisnis. Pasar kita dibanjiri pemain-pemain asing. Bisa jadi tanpa disadari dari ujung kepala hingga kaki kita menggunakan merek asing.

Sampo merek Pantene, pupur dan gincu merek Revlon, baju merek Uniqlo, ikat pinggang merek Bally, sepatu merek Converse. Menenteng iPhone, menggunakan tablet merek Samsung, dan laptop Lenovo.

Semua itu merek asing yang menikmati kayanya pasar Indonesia. Mau menyalahkan mereka karena “menjajah” negeri kita dengan produk dan jasa yang ditawarkan? Rasanya sungguh salah alamat.

Peribahasa “ada gula, ada semut” bukanlah omong kosong. Di mana ada pasar potensial, di situ lah para produsen berkumpul.

Indonesia merupakan sebongkah besar gula yang sangat mengundang bagi para pemilik merek, termasuk merek-merek global. Pertanyaannya, ke manakah para pemilik merek lokal? Apakah mereka juga menikmati keuntungan yang sama? Atau hanya berdiri di belakang sebagai latar belakang sementara merek global menjadi pemain utamanya? Continue reading