Sustainability Brand: Membangun Merek dengan Kepedulian

sustainability brand

Gambar diambil dari sini

Menciptakan dan membangun sebuah merek adalah satu hal, tapi membuatnya tumbuh, berkembang, dan bertahan dalam benak konsumen itu adalah hal lain lagi. Sebuah merek perlu memiliki sesuatu yang membuatnya diingat serta memukau konsumen.

Merek hari ini harus terus bersaing dan berjuang untuk mendapat tempat di benak konsumen dan prioritas di kantong mereka. Karena kita sungguh harus bersaing dengan yang lain untuk memenangkan isi dompet konsumen.

Di tengah persaingan tersebut, muncullah ide tentang sustainability brand. Sustainability brand merupakan merek yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sosial. Ini membuat merek-merek tersebut menempati posisi yang sangat khas di mata dan pikiran konsumen.

Banyak marketer yang menganggap sustainability hanya sebatas nilai tambah. Padahal sebenarnya hal ini bisa menjadi identitas bagi si merek itu sendiri, bukan sekadar pemanis untuk menarik perhatian konsumen.

Kunci Pikat Kelas Menengah

Menurut saya, ada beberapa hal sebenarnya yang membuat sustainability menjadi penting bagi merek. Pertama, sangat penting menjaga keselarasan bisnis dengan alam dan lingkungan sosial di mana kita berada. Mereka adalah penyokong terbesar bisnis kita.

Lingkungan sosial yang suportif dan keseimbangan alam yang menyediakan bahan baku akan mendukung sebuah bisnis berjalan dengan baik. Mungkin sampai di sini saya terkesan sebagai aktivis lingkungan yang memaksakan ide tentang sustainability. Tapi kalau kita mau membuka pikiran hal itu tidak terlalu mengawang-awang.

Lingkungan sosial sekitar bisnis kita adalah calon konsumen pertama sekaligus calon brand ambassador terkuat. Jadi sangat masuk akal bila memperkuat lingkungan sosial di sekitar menjadi bagian dari rencana bisnis kita.

Begitu juga halnya dengan alam yang menyediakan bahan baku. Percaya lah selaras dengan alam tidak pernah merugikan. Ingat, tanda global warming sudah makin nampak jelas.

Kedua, memiliki core value itu penting. Merek bukan lagi sebatas citra dari manajemen identitas atau manajemen reputasi bisnis. Mereka adalah semua hal tentang strategi bisnis kita. Mulai dari mengapa kita hadir hingga apa yang kita jual, dan yang paling krusial, hubungan bisnis dengan konsumennya.

Itu sebabnya, bisnis harus punya core value yang jelas. Bisa saja sebuah bisnis berdiri semata-mata untuk menghasilkan uang. Tapi seberapa kuat bisnis seperti itu akan bertahan di benak konsumennya? Jujur saja, kalau saya tidak tertarik menjadi konsumen sebuah bisnis yang hanya ada demi uang. Tidak tahu kalau dengan Anda.

Core value akan menjadi roh yang menggerakkan bisnis. Karenanya tak heran bila merek yang memilih menjadi sustainability brand akan memiliki arah yang jelas. Mereka dituntun oleh nilai yang jelas. Namun, jelas bila kita memilihnya, ada konsekuensi strategis bagi merek dan bisnis kita.

Ketiga, sustainability menawarkan kisah yang lebih menarik dan memudahkan merek merangkul konsumen mereka. Storytelling menjadi hal yang lebih menarik bagi konsumen. Berbagi kisah dan cerita mendekatkan merek pada konsumennya, karena mereka lebih suka mendengar cerita ketimbang menerima promosi.

Pilihan untuk menjadi sustainability brand menyediakan merek bahan yang tidak habis-habis untuk diceritakan. Hal ini akan memperkuat hubungan mereka dengan konsumennya. Ketika hubungan itu makin erat, promosi dan iklan mungkin bukan lagi bagian penting yang menyedot bujet pemasaran.

Bukan itu saja, kuatnya hubungan ini akan dengan sendirinya mendatangkan pembela-pembela merek yang bakal dengan senang hati menyebarkan kisah merek kita pada orang-orang di lingkungannya.

Dan kalau bisnis Anda menyasar kalangan kelas menengah hal ini akan memudahkan Anda memenangkan hati, pikiran, dan isi dompet konsumen. Kalau kita melihat piramida Maslow, puncak kebutuhan manusia adalah aktualisasi diri. Kelas menengah adalah orang-orang yang tidak lagi pusing dengan kebutuhan pokok mereka. Mereka tengah mengejar aktualisasi diri.

Salah satu karakter dari orang-orang yang sedang mengejar aktualisasi diri adalah lebih peduli pada kemanusiaan. Kemanusiaan di sini adalah lingkungan alam dan sosial di sekitarnya.

Orang-orang ini akan mencari merek yang sesuai dengan apa yang mereka cari. Itu sebabnya, sustainability brand lebih mudah merangkul kelas menengah. Karena apa yang mereka cari sesuai dengan apa yang kita tawarkan. Hukum sebab-akibat sederhana.

Harus Autentik

Jadi, sudah mulai tertarik dengan konsep sustainability brand? Mari kita lanjutkan. Di atas sudah saya sebutkan bahwa memilih konsep ini memiliki konsekuensi strategis bagi bisnis. Banyak merek yang akhirnya kurang sukses menerapkan hal ini karena mereka tidak memulainya secara autentik.

Menurut Yvon Chouinard, Founder Patagonia, alasan mengapa perusahaan tidak sukses menerapkan sustainability dan membangun kepercayaan adalah karena mereka tidak memulainya dengan autentik. “Merek yang dibangun dengan fondasi yang autentik akan lebih mudah berhubungan dengan konsumennya,” begitu katanya seperti dilansir oleh The Guardian.

Sementara menurut Simon Sinek, pengarang yang memopulerkan konsep “the golden circle”, untuk membangun autentisitas diperlukan arsitektur “why-how-what”. “People don’t buy what you do, they buy why you do it,” begitu katanya. Dan mantra tersebut perlu diterapkan dalam komunikasi berkesinambungan yang dilakukan perusahaan.

Iya, kan? Kita pada dasarnya tidak membeli barang yang dijual, tapi ide yang diwujudkan dalam sebuah produk. Sebagai contoh, dulu saya pernah membeli sebotol sabun mandi cair hanya karena saya begitu terinspirasi oleh cerita di balik produk tersebut, oleh ide pelestarian lingkungan yang diwakili oleh produk tersebut.

Itu sebenarnya yang membedakan sebuah produk ekskusif dengan produk massal. Sabun pada dasarnya kan sama saja. Zat untuk membersihkan tubuh kita dari kotoran.

Tapi mengapa orang pada akhirnya lebih memilih membeli sabun Body Shop ketimbang merek lain yang ada di hipermarket? Tentu karena mereknya. Pertanyaannya, mengapa orang memilih merek itu dibanding yang lain? Ide di balik merek tersebut lah yang memikat pelanggannya.

Apa yang mendasari lahirnya sebuah merek jauh lebih penting ketimbang apa yang dijual oleh merek tersebut. Hal tersebut tidak saja penting bagi konsumen, tapi juga bersifat krusial bagi merek itu sendiri. Ide tersebut lah yang nantinya akan menggerakkan seluruh elemen organisasi dalam membangun merek.

Ide sustainability brand merupakan ide yang sangat menarik dan menjanjikan. Hanya saja ada konsekuensi-konsekuensi strategis yang harus diterima dan dijalankan oleh pemilik merek.

Ini bukan satu-satunya cara dalam membangun merek. Namun kalau ini adalah yang dipilih, lakukanlah dengan benar sejak awal, agar investasi yang dicurahkan tidak berakhir sia-sia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s