Sustainability Brand: Membangun Merek dengan Kepedulian

sustainability brand

Gambar diambil dari sini

Menciptakan dan membangun sebuah merek adalah satu hal, tapi membuatnya tumbuh, berkembang, dan bertahan dalam benak konsumen itu adalah hal lain lagi. Sebuah merek perlu memiliki sesuatu yang membuatnya diingat serta memukau konsumen.

Merek hari ini harus terus bersaing dan berjuang untuk mendapat tempat di benak konsumen dan prioritas di kantong mereka. Karena kita sungguh harus bersaing dengan yang lain untuk memenangkan isi dompet konsumen.

Di tengah persaingan tersebut, muncullah ide tentang sustainability brand. Sustainability brand merupakan merek yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sosial. Ini membuat merek-merek tersebut menempati posisi yang sangat khas di mata dan pikiran konsumen.

Banyak marketer yang menganggap sustainability hanya sebatas nilai tambah. Padahal sebenarnya hal ini bisa menjadi identitas bagi si merek itu sendiri, bukan sekadar pemanis untuk menarik perhatian konsumen. Continue reading

Advertisements

Mencari Peluang di Tengah Gempuran Hallyu

hallyu

Gambar diambil dari sini

Siapa yang diam-diam suka nonton k-drama atau secara sembunyi-sembunyi dengar lagu-lagu k-pop? Atau siapa yang sekarang mulai pakai kosmetik atau produk lain buatan Korea Selatan? Well, saya harus ngaku kalau saya salah satunya.

Tapi tentu saya nggak sendiri (membela diri). Ada banyak orang di dunia ini yang tergila-gila dengan produk-produk Korea, mulai dari drama, musik, selebriti yang cantik dan ganteng (meskipun hasil operasi plastik), kosmetik, hingga produk elektronik seperti smartphone.

Hampir tidak ada belahan bumi yang tidak terkena terpaan Korean wave. Bahkan Amerika Serikat yang begitu sulit ditembus oleh negara Asia ikut tersapu gelombangnya.

Mereka pernah dilanda demam Gangnam Style. Hingga hari ini video Psy menarikan tarian “naik kudanya” itu menjadi video paling banyak ditonton di YouTube. Video tersebut ditonton lebih dari dua miliar kali.

Demam Korea yang kini melanda banyak negara di dunia tidak dibangun dalam sehari. Pemerintah Korea Selatan sudah mempersiapkan hal tersebut selama bertahun-tahun dan budaya pop memainkan peran yang sangat besar.  Continue reading

Saatnya Merek Lokal Punya Taji

wayang

Gambar diambil dari sini

Indonesia adalah bangsa yang besar dengan begitu banyak potensi. Tidak ada yang bisa mengingkari potensi Indonesia. Kekayaan alam melimpah, posisi geografis menguntungkan, bahkan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa pun menjadi potensi tersendiri.

Bagi dunia bisnis, jumlah penduduk sebanyak itu merupakan pasar yang sangat besar. Belum lagi kalau kita melihat demografi penduduk yang kebanyakan berusia produktif. Sebanyak 84% dari total populasi Indonesia berusia di bawah 50 tahun. Sungguh aset yang sangat berharga. Tak mengherankan bila pihak asing begitu tergiur untuk masuk ke Indonesia.

Masalahnya, kita acap kali tidak menyadari apa yang kita miliki sampai orang lain mengambilnya. Ingat kan bagaimana semua orang ribut dan marah-marah ketika “tetangga sebelah” mengklaim kesenian daerah kita? Padahal sebelum itu boro-boro membicarakannya, sebagian mungkin lupa kalau Reog, Angklung, dan Tari Pendet itu punya kita.

Hal yang sama berlaku pada dunia bisnis. Pasar kita dibanjiri pemain-pemain asing. Bisa jadi tanpa disadari dari ujung kepala hingga kaki kita menggunakan merek asing.

Sampo merek Pantene, pupur dan gincu merek Revlon, baju merek Uniqlo, ikat pinggang merek Bally, sepatu merek Converse. Menenteng iPhone, menggunakan tablet merek Samsung, dan laptop Lenovo.

Semua itu merek asing yang menikmati kayanya pasar Indonesia. Mau menyalahkan mereka karena “menjajah” negeri kita dengan produk dan jasa yang ditawarkan? Rasanya sungguh salah alamat.

Peribahasa “ada gula, ada semut” bukanlah omong kosong. Di mana ada pasar potensial, di situ lah para produsen berkumpul.

Indonesia merupakan sebongkah besar gula yang sangat mengundang bagi para pemilik merek, termasuk merek-merek global. Pertanyaannya, ke manakah para pemilik merek lokal? Apakah mereka juga menikmati keuntungan yang sama? Atau hanya berdiri di belakang sebagai latar belakang sementara merek global menjadi pemain utamanya? Continue reading