Merek dan Descendants of the Sun: Ini Soal Product Placement

Descendants of the Sun

Foto diambil dari sini

Para perempuan di Asia bisa jadi kini tengah mengalami withdrawal syndrome setelah drama Descendants of the Sun selesai masa tayangnya. Bagi Anda yang bukan penggemar drama Korea, Descendants of the Sun adalah Kdrama yang menjadi hits di Asia.

Rating drama ini sangat tinggi, mencapai 38,8%, dan membuat banyak perempuan tergila-gila terhadap drama ini, terutama pada aktor dan aktrisnya yang cantik dan ganteng.

Tapi saya bukan mau membahas soal dramanya, melainkan soal product placement dan bagaimana merek yang terlibat dalam drama ini panen revenue pasca kesuksesan Descendants of the Sun menyapu kawasan Asia. Continue reading

Advertisements

Sustainability Brand: Membangun Merek dengan Kepedulian

sustainability brand

Gambar diambil dari sini

Menciptakan dan membangun sebuah merek adalah satu hal, tapi membuatnya tumbuh, berkembang, dan bertahan dalam benak konsumen itu adalah hal lain lagi. Sebuah merek perlu memiliki sesuatu yang membuatnya diingat serta memukau konsumen.

Merek hari ini harus terus bersaing dan berjuang untuk mendapat tempat di benak konsumen dan prioritas di kantong mereka. Karena kita sungguh harus bersaing dengan yang lain untuk memenangkan isi dompet konsumen.

Di tengah persaingan tersebut, muncullah ide tentang sustainability brand. Sustainability brand merupakan merek yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sosial. Ini membuat merek-merek tersebut menempati posisi yang sangat khas di mata dan pikiran konsumen.

Banyak marketer yang menganggap sustainability hanya sebatas nilai tambah. Padahal sebenarnya hal ini bisa menjadi identitas bagi si merek itu sendiri, bukan sekadar pemanis untuk menarik perhatian konsumen. Continue reading

Mencari Peluang di Tengah Gempuran Hallyu

hallyu

Gambar diambil dari sini

Siapa yang diam-diam suka nonton k-drama atau secara sembunyi-sembunyi dengar lagu-lagu k-pop? Atau siapa yang sekarang mulai pakai kosmetik atau produk lain buatan Korea Selatan? Well, saya harus ngaku kalau saya salah satunya.

Tapi tentu saya nggak sendiri (membela diri). Ada banyak orang di dunia ini yang tergila-gila dengan produk-produk Korea, mulai dari drama, musik, selebriti yang cantik dan ganteng (meskipun hasil operasi plastik), kosmetik, hingga produk elektronik seperti smartphone.

Hampir tidak ada belahan bumi yang tidak terkena terpaan Korean wave. Bahkan Amerika Serikat yang begitu sulit ditembus oleh negara Asia ikut tersapu gelombangnya.

Mereka pernah dilanda demam Gangnam Style. Hingga hari ini video Psy menarikan tarian “naik kudanya” itu menjadi video paling banyak ditonton di YouTube. Video tersebut ditonton lebih dari dua miliar kali.

Demam Korea yang kini melanda banyak negara di dunia tidak dibangun dalam sehari. Pemerintah Korea Selatan sudah mempersiapkan hal tersebut selama bertahun-tahun dan budaya pop memainkan peran yang sangat besar.  Continue reading

Saatnya “Memainkan” Pasar lewat Game

gamification

Gambar diambil dari sini

Siapa bilang kegiatan marketing tidak bisa menyenangkan bagi konsumen? Game membuat kegiatan marketing lebih fun dan membuat semua orang senang dan menang.

Bermain merupakan sebuah kegiatan rekreasi yang disukai semua orang. Kegiatan ini tidak pernah menjadi monopoli anak-anak, meski mereka memang cenderung bermain lebih banyak ketimbang orang dewasa. Bahkan saat ini justru orang dewasa mulai kembali kecanduan bermain, terutama video game dan game online.

Siapa di antara Anda yang sedang atau pernah kecanduan game Candy Crush Saga? Saya adalah salah satu yang kecanduan meski tidak parah, sepertinya. Candy Crush Saga jelas bukan satu-satunya game yang bikin kecanduan, dan saya juga bukan satu-satunya orang yang sempat kecanduan main game.

Pertanyaannya, mengapa sampai ada orang yang kecanduan main game? Hal paling jelas dan gamblang adalah karena bermain game adalah hal yang menyenangkan.

Game memberikan tantangan yang menggelitik hasrat alami manusia untuk berkompetisi, memperoleh status, dan mendapatkan reward ketika berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Inilah yang akhirnya menyebabkan orang kecanduan.

Begitu mudahnya kita hanyut dalam sebuah permainan, membuat game menjadi sebuah industri yang tampak nggak ada matinya. Tidak hanya itu, kuatnya ikatan antara gamer dengan game yang dimainkannya, membuat game, khususnya game online dilirik sebagai perangkat pemasaran. Continue reading

Brand Journalism: Komunikasi Pemasaran dengan Jurnalisme ala Merek

brand journalism

Gambar diambil dari sini

Seiring dengan makin meluasnya penerapan content marketing, istilah brand journalism juga makin sering dipakai. Dulu pertama kali saya mendengar istilah brand journalism terus terang saja agak bingung.

Maksudnya apa ya? Apakah itu artinya merek memproduksi sendiri berita-berita mereka? Dan, ya, brand journalism kurang lebih seperti itu.

Merek tidak benar-benar menciptakan berita, melainkan membuat konten yang menarik bagi audiensnya. Brand bertindak selayaknya para editor di ruang-ruang berita. Mereka mencari angle-angle menarik dalam menyajikan berita kepada para pembacanya.

Hal ini sebenarnya tidak lepas dari konsep content marketing di mana konten adalah sang raja. Konsumen hari ini adalah konsumen yang tidak percaya lagi pada iklan. Kalau lihat iklan mereka bawaannya nggak percaya. Mereka berpikir, “Ah pasti bohong deh. Lebay tuh pasti iklannya.”

Mereka lebih percaya pada artikel-artikel ulasan di blog atau rekomendasi di media sosial. Kecenderungan ini membuat merek mau tidak mau harus melakukan hal serupa, membuat konten. Pertanyaannya tentu konten seperti apa?

Jawabannya, konten yang diinginkan atau dibutuhkan oleh konsumen. Kesampingkan dulu nafsu ingin jualan.

Di era marketing yang mengedepankan dialog, ide kuno tentang menguasai pikiran pelanggan dengan mencekoki berbagai macam pesan adalah sebuah kesombongan.

Alih-alih memaksa menjejali pelanggan dengan segala macam pesan, konsep brand journalism yang menyajikan pesan-pesan yang mampu mengikat konsumen menjadi lebih penting.  Continue reading

Ask.fm: Media untuk Bertanya Sesuka Hati

ask.fmPerkenalan saya dengan Ask.fm pertama kali terjadi waktu masa pilpres yang baru saja berlalu. Waktu itu beberapa orang di linimasa saya memasukkan tautan akun Ask.fm mereka. Penasaran dong saya dan makin penasaran karena sejak itu tampaknya Ask.fm mulai jadi “mainan” baru di Indonesia, selain Secret dan Legatalk.

Ask.fm sendiri merupakan sebuah media sosial yang memungkinkan orang lain bertanya kepada si empunya akun. Apapun bisa ditanyakan melalui media sosial ini. Dari pertanyaan yang umum seperti, “apa tips agar bisa belajar bahasa asing dengan cepat” hingga yang lebih personal seperti, “gimana sih caranya melupakan mantan”.

Saat ini pengguna global Ask.fm mencapai 180 juta. Angka itu adalah jumlah monthly unique user. Sebuah modal yang sangat lumayan untuk platform yang baru berdiri pada tahun 2010.

Modal ini juga lah yang salah satunya memotivasi Barry Diller, miliuner media asal Amerika Serikat, melalui perusahaan yang dimilikinya, yaitu Ask.com mengakuisisi Ask.fm pada 14 Agustus lalu.

Di samping jumlah penggunanya yang cukup besar, usia penggunanya yang relatif muda juga menjadi basis pengguna yang menguntungkan. Sebanyak 40% pengguna Ask.fm berusia di bawah 18 tahun.

Setiap harinya ada sekitar 20.000 pertanyaan yang dilemparkan melalui situs ini dan hampir 45%-nya dilakukan melalui perangkat mobile. Sebagai informasi, aplikasi mobile jejaring sosial ini sudah diunduh lebih dari 40 juta kali.

Apa Untungnya Buat Merek? Continue reading

Brand Resonance: Pencapaian Terbesar Sebuah Merek

brand resonance

Gambar diambil dari sini

Apa yang menjadi puncak dalam perjalanan membangun sebuah brand? Menurut branding guru, Kevin Lane Keller, itu adalah brand resonance. Dalam piramida Costumer-Based Brand Equity (CBBE), brand resonance bertengger di posisi puncak.

Apa sebenarnya brand resonance? Dalam bukunya yang berjudul Strategic Brand Management ia menjelaskan bahwa brand resonance merupakan langkah akhir dalam model CBBE yang berfokus pada relationship tertinggi dan tingkat identifikasi pelanggan terhadap sebuah merek.

Menurut Keller, brand resonance mengacu pada sifat-sifat alamiah dari hubungan yang erat tersebut. Tapi tentu tidak berhenti sampai di situ, hal tersebut juga menunjuk pada keadaan ketika pelanggan merasa “nyambung” dengan suatu merek. Kalau istilah Amalia D. Maulana dalam bukunya Brand Mate, ini adalah keadaan ketika seseorang merasa sebuah brand telah menjadi soulmate-nya.

Gampangnya begini, ketika seorang pelanggan merasa sangat terhubung dengan sebuah merek dan mengidentifikasikan dirinya dengan merek tersebut, itulah yang kita sebut sebuah brand resonance.

Nah, brand resonance merupakan hasil dari dua hal, yaitu awareness dan brand image. Pada saat awareness dan brand image terbangun dengan sangat baik, hal tersebut akan beresonansi dalam bentuk-bentuk hubungan yang lebih emosional antara merek tersebut dengan pelanggannya. Apple, Harley-Davidson, dan eBay merupakan contoh-contoh merek yang memiliki resonansi tinggi.

Resonansi sebuah merek itu sendiri bisa terlihat dalam dua sisi. Pertama, intensitas, yaitu kedalaman ikatan psikologis antara pelanggan dengan suatu merek. Hal ini yang sering kita sebut dengan loyalitas.

Kedua, tingginya aktivitas yang didorong oleh loyalitas tersebut. Mulai dari seberapa banyak ia melakukan pembelian produk, dan sesering apa pembelian tersebut dilakukan.

Secara spesifik Keller membagi brand resonance ke dalam empat kategori, yaitu behavioral loyalty, attitudinal attachment, sense of community, dan active engagement. Behavioral loyalty merupakan perilaku yang menunjukkan loyalitas pada sebuah merek. Seperti apa perilaku tersebut? Tentu dengan melakukan pembelian.  Continue reading