About ayudamarjati

Penulis lepas yang memutuskan berkarya sendiri

Merek dan Descendants of the Sun: Ini Soal Product Placement

Descendants of the Sun

Foto diambil dari sini

Para perempuan di Asia bisa jadi kini tengah mengalami withdrawal syndrome setelah drama Descendants of the Sun selesai masa tayangnya. Bagi Anda yang bukan penggemar drama Korea, Descendants of the Sun adalah Kdrama yang menjadi hits di Asia.

Rating drama ini sangat tinggi, mencapai 38,8%, dan membuat banyak perempuan tergila-gila terhadap drama ini, terutama pada aktor dan aktrisnya yang cantik dan ganteng.

Tapi saya bukan mau membahas soal dramanya, melainkan soal product placement dan bagaimana merek yang terlibat dalam drama ini panen revenue pasca kesuksesan Descendants of the Sun menyapu kawasan Asia. Continue reading

Beradaptasi atau Mati?

Adaptasi atau Mati

Foto diambil dari sini

Suatu pagi saya duduk ngobrol-ngobrol dengan salah satu teman. Awalnya kita hanya ngobrol ringan seputar kegiatan anak-anak – maklum kami ibu-ibu – dan kegiatan lari kami, tapi kemudian pembicaraan berpindah ke hal yang menarik. Soal pekerjaan. Topiknya adalah adaptasi atau mati.

Teman saya adalah seorang dokter gigi. Dia praktik di salah satu klinik gigi di bilangan Radio Dalam. Klinik tersebut adalah milik seorang dokter gigi senior dengan peralatan yang sangat canggih. Sayangnya, hal tersebut tidak didukung dengan kegiatan pemasaran yang sama canggihnya. Alhasilnya klinik tersebut tidak seramai yang diperkirakan.

Teman saya kemudian mengusulkan untuk membuat website dan akun media sosial. Awalnya ide ini diragukan oleh sang dokter gigi senior karena dia khawatir dengan risiko yang mungkin terjadi bila memiliki akun media sosial. Namun akhirnya sebuah akun di Facebook dan Instagram serta website pun dibuat supaya eksis di dunia maya.

Internet memang bisa menjadi hal yang sangat mengerikan bagi orang-orang yang lahir di masa kejayaan radio, koran, majalah, dan televisi. Kita akan selalu takut pada sesuatu yang tidak kenal. Itu hal yang sangat manusiawi.

Sayangnya, internet telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dan menjadi realitas bisnis hari ini. Suka atau tidak suka semua orang yang terjun dalam dunia bisnis harus menerima itu, tak peduli apapun bisnis mereka. Kalau mau survive dalam dunia bisnis hari ini, ya harus memeluk erat dunia maya. Benar-benar hadir di sana.

Beradaptasi atau mati. Cuma dua itu pilihan yang dimiliki pebisnis. Continue reading

Pelayanan Rumah Sakit, BPJS, dan Empati

Layanan rumah sakit dan kantor layanan pemerintah seperti BPJS kerap kali dituding tidak punya empati. Benarkah?

Melayani dengan hati dan empati

Foto diambil dari sini

Saya berani bilang tidak ada orang yang suka datang ke rumah sakit. Jalan-jalan ke taman atau mal tentu lebih menyenangkan daripada kunjungan ke rumah sakit. Paling tidak itu bukan favorit saya.

Rasa tidak senang itu hanya bisa dikurangi dengan layanan yang penuh empati. Itu menjadi sekadar slogan sampai kita mengalaminya sendiri. Dan itu terjadi pada saya, si penulis yang berkali-kali pernah menulis tentang layanan, beberapa waktu yang lalu.

Continue reading

Forget About The Price Tag

pricing strategy

Gambar diambil dari sini

Konsumen maupun produsen sama-sama pusing kalau sudah bicara soal harga. Itu makanya lupakan saja soal harga, karena sekarang saatnya kita bicara value.

Saat hampir semua mal memberikan diskon dalam rangka Jakarta Great Sale atau sale akhir tahun misalnya, masa itu bisa jadi salah satu momen orang ramai-ramai belanja. Mendengar kata diskon, terutama perempuan telinganya langsung tegak dan tergerak untuk membeli barang.

Fenomena ini menunjukkan dua hal. Pertama, perempuan sangat suka diskon. Kedua, harga menjadi elemen penting dalam keputusan pembelian. Kita tidak akan mendiskusikan soal perempuan doyan belanja dan begitu tergila-gila pada diskon. Tapi kita akan bicara lebih jauh soal harga.

Ya, harga selalu menjadi elemen penting dalam keputusan pembelian. Itu sebabnya, kalau mau membeli apapun kita selalu melihat label harganya, kan? Ada yang lihat sekilas langsung memasukannya ke keranjang belanja, ada juga yang begitu lihat barangnya langsung dikembalikan lagi. Continue reading

Sustainability Brand: Membangun Merek dengan Kepedulian

sustainability brand

Gambar diambil dari sini

Menciptakan dan membangun sebuah merek adalah satu hal, tapi membuatnya tumbuh, berkembang, dan bertahan dalam benak konsumen itu adalah hal lain lagi. Sebuah merek perlu memiliki sesuatu yang membuatnya diingat serta memukau konsumen.

Merek hari ini harus terus bersaing dan berjuang untuk mendapat tempat di benak konsumen dan prioritas di kantong mereka. Karena kita sungguh harus bersaing dengan yang lain untuk memenangkan isi dompet konsumen.

Di tengah persaingan tersebut, muncullah ide tentang sustainability brand. Sustainability brand merupakan merek yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sosial. Ini membuat merek-merek tersebut menempati posisi yang sangat khas di mata dan pikiran konsumen.

Banyak marketer yang menganggap sustainability hanya sebatas nilai tambah. Padahal sebenarnya hal ini bisa menjadi identitas bagi si merek itu sendiri, bukan sekadar pemanis untuk menarik perhatian konsumen. Continue reading

Mencari Peluang di Tengah Gempuran Hallyu

hallyu

Gambar diambil dari sini

Siapa yang diam-diam suka nonton k-drama atau secara sembunyi-sembunyi dengar lagu-lagu k-pop? Atau siapa yang sekarang mulai pakai kosmetik atau produk lain buatan Korea Selatan? Well, saya harus ngaku kalau saya salah satunya.

Tapi tentu saya nggak sendiri (membela diri). Ada banyak orang di dunia ini yang tergila-gila dengan produk-produk Korea, mulai dari drama, musik, selebriti yang cantik dan ganteng (meskipun hasil operasi plastik), kosmetik, hingga produk elektronik seperti smartphone.

Hampir tidak ada belahan bumi yang tidak terkena terpaan Korean wave. Bahkan Amerika Serikat yang begitu sulit ditembus oleh negara Asia ikut tersapu gelombangnya.

Mereka pernah dilanda demam Gangnam Style. Hingga hari ini video Psy menarikan tarian “naik kudanya” itu menjadi video paling banyak ditonton di YouTube. Video tersebut ditonton lebih dari dua miliar kali.

Demam Korea yang kini melanda banyak negara di dunia tidak dibangun dalam sehari. Pemerintah Korea Selatan sudah mempersiapkan hal tersebut selama bertahun-tahun dan budaya pop memainkan peran yang sangat besar.  Continue reading

Era Digital, Eranya Pengukuran

pengukuran

Gambar diambil dari sini

Banyak marketer ragu masuk ke digital marketing. Padahal kita sudah tahu apa saja keuntungannya. Mungkinkah pengukuran solusinya?

Kehadiran teknologi digital telah menjungkirbalikan banyak hal dalam kehidupan kita. Mengubah banyak hal, dari cara kita berteman, berhubungan dengan orang lain, hingga mungkin mengasuh anak. Tentunya berubahnya gaya hidup masyarakat ikut mengubah wajah dunia bisnis dan sudah pasti pemasaran.

Ketika orang-orang hidup dan berkomunikasi melalui teknologi digital, sangat masuk akal bila kemudian pemasaran pun dilakukan melalui kanal-kanal digital. Hal ini tentu bukan berita baru bagi para entrepreneur dan pemasar. Kita mungkin sudah kenyang dicekoki tentang betapa besar kekuatan digital marketing.

Namun, pada kenyataannya digital marketing di Indonesia belum berkembang dengan baik. Kita baru berada di tingkat awal penggunaan digital marketing, termasuk di dalamnya pemanfaatan media sosial sebagai alat pemasaran.

Bahkan bujet iklan untuk digital saat ini tidak lebih dari 5%. Sebagai perbandingan, bujet untuk kanal digital di Eropa dan Amerika Serikat sudah mencapai angka 20%.

Bulan April 2013, Nielsen merilis laporan bertajuk 2013 Online Advertising Performance Outlook. Dari laporan tersebut ada beberapa hal yang menarik. Sebanyak 63% marketer menyatakan akan menaikkan bujet online branding mereka. Bahkan satu dari lima marketer menyatakan bahwa kenaikannya akan lebih dari 20%.

Sementara itu, 48% marketer akan memindahkan bujet promosi mereka dari televisi ke iklan online. Dan 70% marketer akan meningkatkan belanja iklan mereka di media sosial dan mobile. Wow. Bagaimana dengan kita?

Tak Kenal, Maka Tak Pede

Tentu ada alasan mengapa para marketer tersebut tanpa keraguan sedikit pun memindahkan alokasi bujet mereka dari media konvensional ke digital. Ketika kita sudah diyakinkan dan dibeberkan banyak bukti sukses digital marketing, namun tetap meragu pertanyaan-pertanyaan pun muncul.

Apa yang salah dari hal ini? Apa yang terlewatkan dari semua informasi tersebut? Continue reading

Crowdfunding: Cocokkah untuk Indonesia?

crowdfunding

Gambar diambil dari sini

Hanya berbekal ide, seseorang dapat memulai bisnisnya melalui dana patungan. Apa dan bagaimana sebenarnya crowdfunding? Tepatkah hal ini diterapkan di Indonesia? 

Di suatu siang saya menghadiri sebuah acara di mana pakar dan pengamat bisnis Yuswohady tampil sebagai pembicara. Saat itu ia mengatakan hal yang sangat menarik.

Menurutnya Indonesia sekarang sedang berada pada tahap revolusi kewirausahaan. Dikatakannya bahwa hal ini terjadi karena PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia telah mencapai US$ 3.000 pada tahun 2010.

Dengan angka PDB sebesar itu, Indonesia dikatakan telah memasuki masa transisi. Kondisi ekonomi masyarakat bergerak maju dari miskin menuju ekonomi menengah.

Tanda bahwa kita sedang memasuki ekonomi menengah adalah terjadinya infrastructure bottleneck. Macet di mana-mana karena kapasitas jalan tidak seimbang dengan jumlah kendaraan.

Inilah tanda bahwa kita sedang memasuki masa ekonomi kelas menengah. Orang-orang yang tadinya punya mobil satu, karena ekonominya membaik sekarang jadi punya tiga. Mereka yang tadinya hanya punya motor, sekarang sudah punya mobil, dan seterusnya. Hal lain yang juga menarik diamati dari masa ini adalah lahirnya para entrepreneur.

Dengan memasuki masa ekonomi kelas menengah, semua orang berlomba-lomba memperkuat finansialnya melalui entrepreneurship. Banyak orang kini tanpa takut terjun ke dunia wirausaha.

Kesuksesan keripik pedas Mak Icih, Rendang Uni Farah, Steak Hotel By Hollycow, dan masih banyak lagi menjadi contoh kesuksesan yang diinginkan. Para entrepreneur sukses ini telah menjadi the new rock star.

Orang kini lebih bangga menjadi pengusaha, ketimbang menjadi pegawai. Sangat berbeda dengan yang terjadi katakanlah 10 tahun yang lalu.

Menjadi wirausahawan hari ini juga relatif lebih mudah ketimbang 10 atau 15 tahun yang lalu. Kehadiran media komunikasi digital membuat orang lebih mudah mempromosikan bisnisnya. Tak hanya itu, teknologi juga telah melahirkan alternatif permodalan melalui crowdfunding.

Kehadiran crowdfunding telah mendemokratisasi permodalan bagi para startup. Hanya berbekal ide, seseorang dapat memulai bisnisnya melalui dana patungan. Apa dan bagaimana sebenarnya crowdfunding? Tepatkah hal ini diterapkan di Indonesia? Continue reading

Periklanan di Persimpangan Jalan

Periklanan

Gambar diambil dari sini

Iklan terus mengalami evolusi. Ia berubah dan berkembang seiring waktu. Dengan fragmentasi media yang demikian rupa, iklan pun sampai di persimpangan jalan. Semakin banyak orang yang skeptis dengan iklan. Masih perlukah kita beriklan?

Dulu saat televisi swasta baru hadir di Indonesia, saya yang saat itu masih duduk di sekolah dasar adalah salah satu penggemar iklan. Saya ingat betapa terkagum-kagumnya saya melihat iklan salah satu bank swasta asing berwarna merah itu.

Namun, ketika iklan mulai semakin banyak dan durasi jeda pariwara semakin lama, saya jadi tidak suka iklan. Commercial break jadi terasa mengganggu. Kalau jeda pariwara itu muncul langsung dipindah ke saluran lain yang sedang tidak ada iklan.

Meski begitu saya masih menikmati iklan-iklan kreatif yang berseni atau lucu. Saya percaya rata-rata orang juga bersikap sama.

Iklan merupakan hal yang dicinta sekaligus dibenci. Tak terhitung berapa kali kita memuji sebuah iklan, tapi juga tak terhitung berapa kali kita mencelanya. Dan entah berapa banyak iklan yang kita abaikan.

Kalau kita mau menengok ke belakang, iklan bahkan sudah ada sejak zaman Mesir kuno. Pesan-pesan komersial dibuat di atas papirus. Iklan komersial modern sudah ada sejak 1900an. Produk sabun merek Pears dianggap produk pertama yang beriklan dalam periklanan modern.

Iklan terus mengalami evolusi. Ia berubah dan berkembang seiring waktu. Dengan fragmentasi media yang demikian rupa, iklan pun sampai di persimpangan jalan. Semakin banyak orang yang skeptis dengan iklan.

Masih perlukah kita beriklan? Continue reading

Saatnya “Memainkan” Pasar lewat Game

gamification

Gambar diambil dari sini

Siapa bilang kegiatan marketing tidak bisa menyenangkan bagi konsumen? Game membuat kegiatan marketing lebih fun dan membuat semua orang senang dan menang.

Bermain merupakan sebuah kegiatan rekreasi yang disukai semua orang. Kegiatan ini tidak pernah menjadi monopoli anak-anak, meski mereka memang cenderung bermain lebih banyak ketimbang orang dewasa. Bahkan saat ini justru orang dewasa mulai kembali kecanduan bermain, terutama video game dan game online.

Siapa di antara Anda yang sedang atau pernah kecanduan game Candy Crush Saga? Saya adalah salah satu yang kecanduan meski tidak parah, sepertinya. Candy Crush Saga jelas bukan satu-satunya game yang bikin kecanduan, dan saya juga bukan satu-satunya orang yang sempat kecanduan main game.

Pertanyaannya, mengapa sampai ada orang yang kecanduan main game? Hal paling jelas dan gamblang adalah karena bermain game adalah hal yang menyenangkan.

Game memberikan tantangan yang menggelitik hasrat alami manusia untuk berkompetisi, memperoleh status, dan mendapatkan reward ketika berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Inilah yang akhirnya menyebabkan orang kecanduan.

Begitu mudahnya kita hanyut dalam sebuah permainan, membuat game menjadi sebuah industri yang tampak nggak ada matinya. Tidak hanya itu, kuatnya ikatan antara gamer dengan game yang dimainkannya, membuat game, khususnya game online dilirik sebagai perangkat pemasaran. Continue reading