Ask.fm: Media untuk Bertanya Sesuka Hati

ask.fmPerkenalan saya dengan Ask.fm pertama kali terjadi waktu masa pilpres yang baru saja berlalu. Waktu itu beberapa orang di linimasa saya memasukkan tautan akun Ask.fm mereka. Penasaran dong saya dan makin penasaran karena sejak itu tampaknya Ask.fm mulai jadi “mainan” baru di Indonesia, selain Secret dan Legatalk.

Ask.fm sendiri merupakan sebuah media sosial yang memungkinkan orang lain bertanya kepada si empunya akun. Apapun bisa ditanyakan melalui media sosial ini. Dari pertanyaan yang umum seperti, “apa tips agar bisa belajar bahasa asing dengan cepat” hingga yang lebih personal seperti, “gimana sih caranya melupakan mantan”.

Saat ini pengguna global Ask.fm mencapai 180 juta. Angka itu adalah jumlah monthly unique user. Sebuah modal yang sangat lumayan untuk platform yang baru berdiri pada tahun 2010.

Modal ini juga lah yang salah satunya memotivasi Barry Diller, miliuner media asal Amerika Serikat, melalui perusahaan yang dimilikinya, yaitu Ask.com mengakuisisi Ask.fm pada 14 Agustus lalu.

Di samping jumlah penggunanya yang cukup besar, usia penggunanya yang relatif muda juga menjadi basis pengguna yang menguntungkan. Sebanyak 40% pengguna Ask.fm berusia di bawah 18 tahun.

Setiap harinya ada sekitar 20.000 pertanyaan yang dilemparkan melalui situs ini dan hampir 45%-nya dilakukan melalui perangkat mobile. Sebagai informasi, aplikasi mobile jejaring sosial ini sudah diunduh lebih dari 40 juta kali.

Apa Untungnya Buat Merek?

Kalau bagi dunia bisnis, pertanyaan yang bakal dilontarkan setiap kali ada media sosial yang mulai jadi tren adalah bagaimana hal itu bisa menguntungkan bagi merek mereka? Menguntungkan di sini tentu tidak selalu berurusan dengan uang. Bisa juga dari sisi awareness maupun engagement.

Kalau dilihat dari profilnya, sebenarnya Ask.fm bisa menguntungkan bagi perusahaan. Publik bisa melemparkan pertanyaan seputar merek melalui jejering ini. Iya betul, lewat Facebook atau Twitter juga bisa. Tapi ini bukan soal menjawab pertanyaannya, melainkan kehadiran merek di tempat konsumen dan calon konsumen mereka berada.

Jumlah pengguna yang didominasi oleh remaja juga membuat jejaring sosial ini sangat potensial bagi merek yang menyasar pangsa pasar tersebut. Dengan hadir di media sosial ini, merek berpeluang membangun ikatan yang kuat dengan audiens mereka. Tidak menutup kemungkinan untuk mendulang pendapatan dari sini.

Sebenarnya sudah banyak merek yang pernah menggunakan media sosial karya Ilja dan Mark Terebin ini. Vodafone, Save the Children, Specsavers, harian The Sun, EDF, Laura Ashley, dan BT adalah beberapa merek yang pernah beriklan melalui media ini. Pendapatan Ask.fm dari iklan sendiri tercatat sebesar 5 juta poundsterling setiap tahunnya.

Dihadang Cyberbullying

Namun, mereka menarik diri dari situs ini tahun lalu ketika seorang remaja Inggris, Hannah Smith bunuh diri gara-gara di-bully melalui situs ini. Tahun 2013 bisa dibilang tahun yang buruk untuk Ask.fm, karena banyak orang tua ramai-ramai memboikot situs ini.

Seruan boikot tersebut bahkan datang langsung dari Perdana Menteri Inggris, David Cameron. Hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi mereka, apalagi seruan tersebut kemudian diikuti oleh kaburnya para pemasang iklan.

Isu cyberbullying memang sudah menghantui jejaring sosial ini sejak tahun 2012. Puncaknya terjadi pada 2013 ketika Hannah Smith ditemukan gantung diri di rumahnya setelah mengalami cyberbullying di akun Ask.fm milik almarhum. Isu tersebut tidak menghilang begitu saja.

Hawa Segar dari Ask.com

Itu sebabnya, ketika Ask.com mengakuisisi platform ini, mereka langsung menegaskan komitmen perusahaan untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi para penggunanya.

“Visi kami tentang situs ini berbeda dengan visi para founder Ask.fm. Mereka mengambil pendekatan libertarian untuk konten-konten dalam situs ini. Tapi kami memandang bahwa kita tidak bisa memiliki ekspresi bebas bila hal tersebut menyangkut konten yang tidak pantas dan tidak aman,” kata Doug Leeds, CEO Ask.com seperti dikutip oleh http://www.ft.com.

Doug berjanji untuk menjadikan Ask.fm sebagai situs yang lebih aman, bahkan untuk pengguna termuda mereka. Hal ini tentu perlu dilakukan untuk menarik kembali para pengiklan yang pernah kabur gara-gara masalah cyberbullying.

Untuk memastikan hal tersebut, Ask.com menggandeng Catherine Teitelbaum, mantan director of global safety and product policy Yahoo untuk menjadi Chief Trust and Safety Officer di Ask.fm.

Di Indonesia, Ask.fm memang belum sepopuler Twitter, Facebook, Path, atau Instagram. Namun, bukan berarti tidak akan berkembang secara signifikan. Kita semua tahu para pengguna media sosial senang mencari sesuatu yang anti-mainstream.

Ketika Path dan Twitter menjadi sesuatu yang mainstream, bisa jadi Ask.fm adalah si anti-mainstream yang dicari. Ketika itu terjadi, sebaiknya merek kita sudah merangkulnya. Jangan tunggu sampai Ask.fm menjadi jejaring sosial mainstream! (Dari berbagai sumber)

4 thoughts on “Ask.fm: Media untuk Bertanya Sesuka Hati

    • Hai, terima kasih sudah komen. Ya, bisa bahaya kalau demikian. Tapi paling tidak setiap orang bisa mengemukakan jawabannya, termasuk bila ada merek yg masuk ke platform ini. Media ini bisa menjadi alternatif lain dalam membangun komunikasi terutama dengan konsumen atau calon konsumen yg jg menggunakan platform ini.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s