Media Sosial: Coffee Shop-nya Dunia Maya

media sosial

Gambar diambil dari sini

Pada suatu pagi ketika sedang berjalan-jalan di linimasa, mata saya berhenti cukup lama pada tweet @Ndorokakung. Waktu itu dia bilang begini, “Social media is not a bullhorn for broadcast but a coffee shop for conversation.”

Ndorokakung tentu bukan orang pertama yang mengatakan hal ini, tapi ia mengingatkan kita semua sekali lagi bahwa esensi media sosial adalah untuk bercakap-cakap. Bukan semata-mata corong untuk jualan. Media ini adalah tempat kita bercakap-cakap, bukan cuma bicara.

Kehadiran media sosial sejak pertama disambut hangat oleh penggunanya di Indonesia. Ingat dulu ketika Friendster menjadi booming, kemudian disambut Facebook yang pada akhirnya menggeser Friendster, dan akhirnya kini ada begitu banyak media sosial dengan fans-nya sendiri-sendiri.

Menurut data terakhir, Indonesia adalah salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia maya. Indonesia adalah negara terbesar keempat di Facebook, dan negara terbesar kelima di Twitter. Bukan hanya itu, Jakarta adalah kota paling aktif di Twitter secara global, sementara Bandung secara mengejutkan berada di urutan kelima sebagai kota paling aktif di Twitter.

Meriahnya penggunaan media sosial tidak saja mengundang masyarakat awam untuk berpartisipasi, tetapi juga para marketer dan pemilik merek. Karena pada akhirnya kita harus berada di tempat para konsumen kita berada, bukan? Dan media sosial adalah tempat di mana mereka berkumpul.

Dengan populasi sebesar itu, media sosial tidak saja menjadi platform komunikasi yang potensial, tapi sekaligus juga menjadi pasar yang juga menggiurkan. Tak mengherankan banyak orang ramai-ramai jualan di media sosial. Benarkah hal ini? Bagaimana seharusnya merek merangkul media sosial?

Mendengarkan Lebih Penting daripada Bicara

Ketika kita bicara media sosial, maka kata yang penting diperhatikan adalah “sosial” bukan “media”. Seperti kata @Ndorokakung, media sosial lebih mirip seperti coffee shop tempat kita nongkrong dan bercakap-cakap. Jadi, ketika marketer dan pemilik merek memutuskan masuk ke media sosial maka aspek bercakap-cakap dengan konsumen haruslah menjadi perhatian utama.

Dengan kemampuan kita membangun percakapan di media sosial, secara tak langsung kita sedang membangun merek kita di sana. Kita semua tentu tahu bagaimana warga di media sosial bisa memiliki kekuatan yang begitu besar untuk menumbangkan sebuah rezim sekalipun. Hal inipun bisa terjadi pada sebuah merek. Percakapan di media sosial dapat mengangkat sebuah merek atau sebaliknya menghempaskannya hingga hancur.

Itu sebabnya sangat penting agar merek kita dibicarakan di media sosial, meski tentu kita harus melihat lagi bagaimana kita dibicarakan di sana. Percakapan positif kah atau justru negatif. Siapapun tentu ingin mendapatkan sentimen positif di media sosial. Tapi tentu tidak mudah melakukannya, meski tidak bisa dibilang sulit juga.

Kuncinya sebenarnya sederhana saja, yaitu kemauan dan kemampuan mendengarkan. Media sosial bukanlah media satu arah seperti halnya media konvensional. Ini adalah media dua arah. Kita tidak bisa hanya bicara tanpa mau mendengarkan. Di media sosial, justru kita harus lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara.

Nah, hal ini berkaitan erat dengan percakapan yang terbangun tentang merek kita di media sosial. Ketika lebih banyak mendengar, kita jadi tahu konten seperti apa yang dibutuhkan dan diinginkan audiens.

Konten yang tepat akan diterima dengan mudah dan kemungkinan di-share kembali kepada jaringannya akan lebih besar. Dari sanalah akhirnya terbentuk sebuah percakapan.

Selain mendengarkan, kemauan kita membantu dan menanggapi dengan cepat para konsumen di media sosial juga akan sangat berpengaruh pada nada percakapan tentang kita di sana. Media sosial memungkinkan kita berinteraksi dan merespon tanggapan audiens dengan cepat, maka lakukanlah hal itu.

Penghuni media sosial bukanlah orang-orang yang sabar. Mereka tidak akan sabar menunggu Anda berkoordinasi berjam-jam apalagi berhari-hari hanya untuk menanggapi sebuah keluhan.

Itu sebabnya, ketika masuk ke media sosial, kita juga harus siap dengan tim yang mampu merespon dengan cepat tanggapan para audiens, baik itu berupa keluhan, saran, maupun pujian. Kecepatan kita merespon akan menentukan sentimen positif atau negatif merek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s