Content marketing: Ketika Marketer Berhenti Jualan

content marketing

Gambar diambil dari sini

Ketika marketing tradisional mulai tidak efektif, hadir sebuah metode bernama content marketing. Dengan metode ini merek dan konsumen bertumbuh bersama, menjadi kawan seperjalanan.

Saat ini kita sedang berada di tengah pusaran perubahan dalam dunia marketing. Marketing tradisional yang sebelumnya kita kenal sedang mengalami perubahan besar-besaran. Hal ini terjadi karena konsumen mulai menutup diri mereka pada praktik pemasaran tradisional.

Iklan di televisi sudah lama dihindari dengan remote control, iklan majalah dilewatkan begitu saja, banner di media online pun nyaris tidak dipandang. Hal seperti ini membuat para marketer semakin sulit untuk menggapai target market mereka.

Efektivitas marketing tradisional yang semakin berkurang membuat para marketer beralih ke content marketing. “Content marketing is the only marketing left,” begitu Seth Godin pernah bilang.

Apa sebenarnya content marketing? Menurut Content marketing Institute, “Content marketing is a marketing technique of creating and distributing valuable, relevant and consistent content to attract and acquire a clearly defined audience – with the objective of driving profitable customer action.”

Content marketing adalah soal menarik perhatian target market melalui konten-konten berkualitas yang relevan. Ini bukan soal jualan dan promosi. Content marketing bukan bicara produk saya nomor satu, tapi soal manfaatnya bagi konsumen. 

Metode pemasaran ini tidak menjadikan konsumen sebagai objek jualan, melainkan sebagai subjek. Percaya lah konsumen sudah bosan ditarik ke sana kemari untuk membeli produk. Mereka justru menginginkan merek yang tidak menyuruh mereka membeli produknya.

Setelah puluhan tahun konsumen selalu dikendalikan oleh merek, kali ini mereka ingin sepenuhnya memegang kendali atas keputusan pembelian. Berkat teknologi, keinginan konsumen betul-betul dapat terwujud.

Kemudahan konsumen mengakses informasi membuat merek tidak bisa lagi mengatur-atur mereka soal merek mana yang harus dikonsumsi. Hal yang bisa dilakukan hanyalah memberikan informasi yang cukup kepada konsumen dan membiarkan mereka yang mengambil keputusan.

Itu sebabnya, iklan tidak lagi efektif meski bukan berarti tidak dibutuhkan lagi. Menurut Content marketing Institute, 70% konsumen lebih memilih mempelajari tentang perusahaan melalui artikel daripada iklan. Dengan kenyataan ini, rasanya akan lebih efektif bila merek menjelaskan tentang dirinya melalui konten.

Di samping itu, lewat konten yang tepat merek bisa membangun komunikasi dua arah dengan konsumen. Pada akhirnya, di era seperti sekarang hanya lewat komunikasi dua arah saja lah loyalitas dapat diharapkan terbentuk. Kalau yang dikedepankan hanya komunikasi satu arah, merek bisa-bisa ditinggalkan oleh pelanggannya. 

Bernilai, Revelan, Konsisten

Sekarang pertanyaannya, konten seperti apa yang bisa membangun engagement dengan pelanggan? Jawabannya sebenarnya sudah ada dalam definisi di atas. Kata kunci content marketing adalah bernilai, relevan, dan konsisten.

Jadi, untuk membangun engagement buatlah konten yang punya nilai, relevan dengan konsumen, dan dibuat secara konsisten. “Hanya ciptakan konten yang relevan untuk masing-masing target audience. That’s it!” tandas Febriati Nadira, Executive Vice President Corporate Secretary & Communication PT Mandiri Sekuritas.

Untuk membuat konten yang relevan, kita harus tahu betul audience yang kita sasar. Caranya ya dengan melalui survei atau riset. Kalau kita tahu persis profil audience yang kita sasar barulah kita bisa membuat konten yang sesuai kebutuhan mereka.

Pada dasarnya, hal ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh perusahaan media. Ketika sebuah perusahaan media akan membuat majalah atau portal, mereka akan menetapkan segmen pembaca. Setelah itu mencari tahu informasi apa yang disukai dan dibutuhkan oleh segmen pembaca itu.

Kalau sudah tahu siapa yang disasar, barulah kita membuat kontennya. Ada berbagai format konten yang bisa dibuat. Jadi jangan terjebak bahwa konten itu harus berupa teks. Sama sekali tidak. Kita bisa membuatnya dalam bentuk teks, foto, video, dan lain sebagainya.

Format seperti apa yang harus dibuat, lagi-lagi berpulang pada target audience kita.

Hal yang sama juga berlaku dalam pemilihan media untuk menyebarkan konten tersebut. Konten bagus menjadi sia-sia bukan kalau tidak disebarkan dengan baik? Karenanya memilih media yang tepat itu penting.

Konten bisa disebarkan melalui media apapun, baik konvensional seperti surat kabar dan majalah maupun digital seperti blog, Twitter, Facebook atau YouTube. Media yang tepat untuk konten adalah media yang biasanya dikonsumsi oleh target audience kita.

Bisa saja hanya menggunakan media konvensional bila target audience-nya adalah orang-orang berusia matang yang umumnya masih mengonsumsi media konvensional.

Bisa juga hanya menggunakan media digital bila sasarannya adalah anak-anak muda yang sudah nyaris sepenuhnya meninggalkan media konvensional. Tapi tidak menutup kemungkinan mengombinasikan keduanya bila targetnya masih mengonsumsi keduanya.   

Transformasi Merek

Salah satu perusahaan yang bisa dijadikan contoh dalam menerapkan content marketing adalah General Electric. Perusahaan ini bisa dibilang pionir dalam content marketing.

Ketika perusahaan lain masih berkutat pada marketing tradisional, GE dengan berani mentransformasi informasi yang selama ini hanya jadi konsumsi “orang dalam” perusahaan menjadi informasi publik dalam bentuk artikel, GIF, microsite perusahaan, maupun Tumblr.

Hasilnya, evolusi GE sebagai sebuah merek. GE bertransformasi dari perusahaan yang memproduksi barang menjadi sebuah perusahaan yang memproduksi ide. Sebuah artikel yang dimuat di Harvard Business Review mengatakan bahwa melalui konten, GE menempatkan dirinya sebagai merek yang memiliki knowledge yang begitu bernilai.

Selain General Electric, masih ada beberapa merek lain yang sukses memanfaatkan konten tidak saja untuk kegiatan pemasaran, tapi juga branding. Misalnya Red Bull, Equinox, dan Shutterstock.

Dari mereka kita bisa belajar bahwa konten merupakan sesuatu yang begitu bernilai bagi merek. Kalau dibilang content is king, itu sungguh benar adanya. Tapi, semua itu tidak bisa didapat dalam semalam.

Content marketing bukan sulap, bukan sihir. Ini membutuhkan waktu dan konsistensi sebelum akhirnya kita bisa memetik hasilnya. “Saya sih selalu percaya bahwa ini adalah investasi. Nggak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Kadang itu bisa impact langsung ke sales atau ke revenue, tapi nggak semuanya bisa dilakukan seperti itu,” kata Nadira.

Jadi, kalau kita sudah berniat menggunakan content marketing lakukanlah dengan benar dan konsisten. Pelihara lah konsumen kita dengan konten-konten berkualitas yang akan membuat mereka jadi lebih cerdas. Di akhir cerita, mereka akan dengan sendirinya memilih merek yang membuat mereka bertumbuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s