Merek dan Descendants of the Sun: Ini Soal Product Placement

Descendants of the Sun

Foto diambil dari sini

Para perempuan di Asia bisa jadi kini tengah mengalami withdrawal syndrome setelah drama Descendants of the Sun selesai masa tayangnya. Bagi Anda yang bukan penggemar drama Korea, Descendants of the Sun adalah Kdrama yang menjadi hits di Asia.

Rating drama ini sangat tinggi, mencapai 38,8%, dan membuat banyak perempuan tergila-gila terhadap drama ini, terutama pada aktor dan aktrisnya yang cantik dan ganteng.

Tapi saya bukan mau membahas soal dramanya, melainkan soal product placement dan bagaimana merek yang terlibat dalam drama ini panen revenue pasca kesuksesan Descendants of the Sun menyapu kawasan Asia. Continue reading

Advertisements

Ask.fm: Media untuk Bertanya Sesuka Hati

ask.fmPerkenalan saya dengan Ask.fm pertama kali terjadi waktu masa pilpres yang baru saja berlalu. Waktu itu beberapa orang di linimasa saya memasukkan tautan akun Ask.fm mereka. Penasaran dong saya dan makin penasaran karena sejak itu tampaknya Ask.fm mulai jadi “mainan” baru di Indonesia, selain Secret dan Legatalk.

Ask.fm sendiri merupakan sebuah media sosial yang memungkinkan orang lain bertanya kepada si empunya akun. Apapun bisa ditanyakan melalui media sosial ini. Dari pertanyaan yang umum seperti, “apa tips agar bisa belajar bahasa asing dengan cepat” hingga yang lebih personal seperti, “gimana sih caranya melupakan mantan”.

Saat ini pengguna global Ask.fm mencapai 180 juta. Angka itu adalah jumlah monthly unique user. Sebuah modal yang sangat lumayan untuk platform yang baru berdiri pada tahun 2010.

Modal ini juga lah yang salah satunya memotivasi Barry Diller, miliuner media asal Amerika Serikat, melalui perusahaan yang dimilikinya, yaitu Ask.com mengakuisisi Ask.fm pada 14 Agustus lalu.

Di samping jumlah penggunanya yang cukup besar, usia penggunanya yang relatif muda juga menjadi basis pengguna yang menguntungkan. Sebanyak 40% pengguna Ask.fm berusia di bawah 18 tahun.

Setiap harinya ada sekitar 20.000 pertanyaan yang dilemparkan melalui situs ini dan hampir 45%-nya dilakukan melalui perangkat mobile. Sebagai informasi, aplikasi mobile jejaring sosial ini sudah diunduh lebih dari 40 juta kali.

Apa Untungnya Buat Merek? Continue reading

Brand Resonance: Pencapaian Terbesar Sebuah Merek

brand resonance

Gambar diambil dari sini

Apa yang menjadi puncak dalam perjalanan membangun sebuah brand? Menurut branding guru, Kevin Lane Keller, itu adalah brand resonance. Dalam piramida Costumer-Based Brand Equity (CBBE), brand resonance bertengger di posisi puncak.

Apa sebenarnya brand resonance? Dalam bukunya yang berjudul Strategic Brand Management ia menjelaskan bahwa brand resonance merupakan langkah akhir dalam model CBBE yang berfokus pada relationship tertinggi dan tingkat identifikasi pelanggan terhadap sebuah merek.

Menurut Keller, brand resonance mengacu pada sifat-sifat alamiah dari hubungan yang erat tersebut. Tapi tentu tidak berhenti sampai di situ, hal tersebut juga menunjuk pada keadaan ketika pelanggan merasa “nyambung” dengan suatu merek. Kalau istilah Amalia D. Maulana dalam bukunya Brand Mate, ini adalah keadaan ketika seseorang merasa sebuah brand telah menjadi soulmate-nya.

Gampangnya begini, ketika seorang pelanggan merasa sangat terhubung dengan sebuah merek dan mengidentifikasikan dirinya dengan merek tersebut, itulah yang kita sebut sebuah brand resonance.

Nah, brand resonance merupakan hasil dari dua hal, yaitu awareness dan brand image. Pada saat awareness dan brand image terbangun dengan sangat baik, hal tersebut akan beresonansi dalam bentuk-bentuk hubungan yang lebih emosional antara merek tersebut dengan pelanggannya. Apple, Harley-Davidson, dan eBay merupakan contoh-contoh merek yang memiliki resonansi tinggi.

Resonansi sebuah merek itu sendiri bisa terlihat dalam dua sisi. Pertama, intensitas, yaitu kedalaman ikatan psikologis antara pelanggan dengan suatu merek. Hal ini yang sering kita sebut dengan loyalitas.

Kedua, tingginya aktivitas yang didorong oleh loyalitas tersebut. Mulai dari seberapa banyak ia melakukan pembelian produk, dan sesering apa pembelian tersebut dilakukan.

Secara spesifik Keller membagi brand resonance ke dalam empat kategori, yaitu behavioral loyalty, attitudinal attachment, sense of community, dan active engagement. Behavioral loyalty merupakan perilaku yang menunjukkan loyalitas pada sebuah merek. Seperti apa perilaku tersebut? Tentu dengan melakukan pembelian.  Continue reading