Beradaptasi atau Mati?

Adaptasi atau Mati

Foto diambil dari sini

Suatu pagi saya duduk ngobrol-ngobrol dengan salah satu teman. Awalnya kita hanya ngobrol ringan seputar kegiatan anak-anak – maklum kami ibu-ibu – dan kegiatan lari kami, tapi kemudian pembicaraan berpindah ke hal yang menarik. Soal pekerjaan. Topiknya adalah adaptasi atau mati.

Teman saya adalah seorang dokter gigi. Dia praktik di salah satu klinik gigi di bilangan Radio Dalam. Klinik tersebut adalah milik seorang dokter gigi senior dengan peralatan yang sangat canggih. Sayangnya, hal tersebut tidak didukung dengan kegiatan pemasaran yang sama canggihnya. Alhasilnya klinik tersebut tidak seramai yang diperkirakan.

Teman saya kemudian mengusulkan untuk membuat website dan akun media sosial. Awalnya ide ini diragukan oleh sang dokter gigi senior karena dia khawatir dengan risiko yang mungkin terjadi bila memiliki akun media sosial. Namun akhirnya sebuah akun di Facebook dan Instagram serta website pun dibuat supaya eksis di dunia maya.

Internet memang bisa menjadi hal yang sangat mengerikan bagi orang-orang yang lahir di masa kejayaan radio, koran, majalah, dan televisi. Kita akan selalu takut pada sesuatu yang tidak kenal. Itu hal yang sangat manusiawi.

Sayangnya, internet telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dan menjadi realitas bisnis hari ini. Suka atau tidak suka semua orang yang terjun dalam dunia bisnis harus menerima itu, tak peduli apapun bisnis mereka. Kalau mau survive dalam dunia bisnis hari ini, ya harus memeluk erat dunia maya. Benar-benar hadir di sana.

Beradaptasi atau mati. Cuma dua itu pilihan yang dimiliki pebisnis. Continue reading

Advertisements

Crowdfunding: Cocokkah untuk Indonesia?

crowdfunding

Gambar diambil dari sini

Hanya berbekal ide, seseorang dapat memulai bisnisnya melalui dana patungan. Apa dan bagaimana sebenarnya crowdfunding? Tepatkah hal ini diterapkan di Indonesia? 

Di suatu siang saya menghadiri sebuah acara di mana pakar dan pengamat bisnis Yuswohady tampil sebagai pembicara. Saat itu ia mengatakan hal yang sangat menarik.

Menurutnya Indonesia sekarang sedang berada pada tahap revolusi kewirausahaan. Dikatakannya bahwa hal ini terjadi karena PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia telah mencapai US$ 3.000 pada tahun 2010.

Dengan angka PDB sebesar itu, Indonesia dikatakan telah memasuki masa transisi. Kondisi ekonomi masyarakat bergerak maju dari miskin menuju ekonomi menengah.

Tanda bahwa kita sedang memasuki ekonomi menengah adalah terjadinya infrastructure bottleneck. Macet di mana-mana karena kapasitas jalan tidak seimbang dengan jumlah kendaraan.

Inilah tanda bahwa kita sedang memasuki masa ekonomi kelas menengah. Orang-orang yang tadinya punya mobil satu, karena ekonominya membaik sekarang jadi punya tiga. Mereka yang tadinya hanya punya motor, sekarang sudah punya mobil, dan seterusnya. Hal lain yang juga menarik diamati dari masa ini adalah lahirnya para entrepreneur.

Dengan memasuki masa ekonomi kelas menengah, semua orang berlomba-lomba memperkuat finansialnya melalui entrepreneurship. Banyak orang kini tanpa takut terjun ke dunia wirausaha.

Kesuksesan keripik pedas Mak Icih, Rendang Uni Farah, Steak Hotel By Hollycow, dan masih banyak lagi menjadi contoh kesuksesan yang diinginkan. Para entrepreneur sukses ini telah menjadi the new rock star.

Orang kini lebih bangga menjadi pengusaha, ketimbang menjadi pegawai. Sangat berbeda dengan yang terjadi katakanlah 10 tahun yang lalu.

Menjadi wirausahawan hari ini juga relatif lebih mudah ketimbang 10 atau 15 tahun yang lalu. Kehadiran media komunikasi digital membuat orang lebih mudah mempromosikan bisnisnya. Tak hanya itu, teknologi juga telah melahirkan alternatif permodalan melalui crowdfunding.

Kehadiran crowdfunding telah mendemokratisasi permodalan bagi para startup. Hanya berbekal ide, seseorang dapat memulai bisnisnya melalui dana patungan. Apa dan bagaimana sebenarnya crowdfunding? Tepatkah hal ini diterapkan di Indonesia? Continue reading

Jadi Entrepreneur: Tujuan Lo Apa?

entrepreneur

Gambar diambil dari sini

Ketika mulai usaha, dari mana kita harus mulai? Dari menentukan awalnya, atau justru dengan menentukan akhirnya?

Tren paling hot sekarang adalah menjadi entrepreneur. Semua orang sekarang berebut jadi entrepreneur, mau yang iseng-iseng, paruh waktu, ataupun full time. Orang nggak malu-malu lagi jualan, apapun produk atau jasanya.

Memang nggak semua yang jualan mau jadi pengusaha serius. Tapi perlu diakui jumlah orang yang tertarik jadi pengusaha serius makin banyak dan umurnya makin muda.

Sebenarnya sih nggak ada yang terlalu berbeda antara pengusaha yang muda dan tidak muda. Orang bilang kan umur hanya perkara angka.

Tapi perlu diakui sebagian orang menganggap orang-orang muda itu kurang pengalaman dan kurang dewasa. Anggapan tersebut sebagian boleh jadi benar.

Ya, pengalaman mungkin kurang. Tapi itu bisa disiasati dengan terus belajar. Belajar itu bisa dari mana saja. Dari buku, mentor, atau dari kejadian sehari-hari.

Semangat untuk terus belajar dan memperkaya pengalaman bisa diperoleh dari titik mulai yang benar. Ketika memutuskan menjadi pengusaha dari mana sih kita harus mulai?

Banyak orang bingung harus memulai dari mana. Tapi pernah nggak kita berpikir, jangan-jangan harusnya kita tidak mulai dari pertanyaan itu. Bisa jadi kita harus mulai dari pertanyaan, “Di mana tujuan akhir kita?” Continue reading

Menanti Aksi Para Entrepreneur Muda Indonesia

young entrepreneur

Foto diambil dari sini

Mereka muda, bersemangat, dan punya banyak ide dalam membangun bisnisnya. Di tangan merekalah masa depan Indonesia berada. Seperti apa aksi para pengusaha muda di dunia bisnis?

Coba tanyakan pada adik-adik Anda yang saat ini masih SMA atau kuliah, apa yang ingin mereka lakukan setelah lulus? Kemungkinan terbesarnya, mereka berniat membuat usaha sendiri alih-alih ingin bekerja di perusahaan tertentu.

Tren memang sudah bergeser. Kalau sekitar 10 tahun lalu orang bangga bekerja di perusahaan multinasional, sekarang anak-anak muda lebih bangga kalau memiliki bisnis sendiri. Jadi entrepreneur sekarang juga terkesan lebih keren daripada jadi karyawan.

Usia orang-orang yang terjun ke dunia wirausaha juga semakin lama semakin muda. sekarang anak muda usia 20an sudah memiliki bisnis. Mereka merintisnya bahkan sejak usia belasan tahun.

Hal ini jelas suatu hal yang sangat menggembirakan. Karena jumlah wirausahawan yang besar akan berimbas langsung pada pendapatan negara. Semakin banyak jumlah wirausahawan di suatu negara, akan semakin besar juga pendapatan negaranya.  Continue reading