Periklanan di Persimpangan Jalan

Periklanan

Gambar diambil dari sini

Iklan terus mengalami evolusi. Ia berubah dan berkembang seiring waktu. Dengan fragmentasi media yang demikian rupa, iklan pun sampai di persimpangan jalan. Semakin banyak orang yang skeptis dengan iklan. Masih perlukah kita beriklan?

Dulu saat televisi swasta baru hadir di Indonesia, saya yang saat itu masih duduk di sekolah dasar adalah salah satu penggemar iklan. Saya ingat betapa terkagum-kagumnya saya melihat iklan salah satu bank swasta asing berwarna merah itu.

Namun, ketika iklan mulai semakin banyak dan durasi jeda pariwara semakin lama, saya jadi tidak suka iklan. Commercial break jadi terasa mengganggu. Kalau jeda pariwara itu muncul langsung dipindah ke saluran lain yang sedang tidak ada iklan.

Meski begitu saya masih menikmati iklan-iklan kreatif yang berseni atau lucu. Saya percaya rata-rata orang juga bersikap sama.

Iklan merupakan hal yang dicinta sekaligus dibenci. Tak terhitung berapa kali kita memuji sebuah iklan, tapi juga tak terhitung berapa kali kita mencelanya. Dan entah berapa banyak iklan yang kita abaikan.

Kalau kita mau menengok ke belakang, iklan bahkan sudah ada sejak zaman Mesir kuno. Pesan-pesan komersial dibuat di atas papirus. Iklan komersial modern sudah ada sejak 1900an. Produk sabun merek Pears dianggap produk pertama yang beriklan dalam periklanan modern.

Iklan terus mengalami evolusi. Ia berubah dan berkembang seiring waktu. Dengan fragmentasi media yang demikian rupa, iklan pun sampai di persimpangan jalan. Semakin banyak orang yang skeptis dengan iklan.

Masih perlukah kita beriklan? Benarkah konsumen membutuhkan iklan? Apakah bujet beriklan yang mencapai akan miliaran bahkan triliunan rupiah betul-betul mendorong penjualan sebuah produk?

Benarkah Iklan Akan Mati?

Bahkan banyak orang berpikir iklan akan mati. Benarkah iklan akan mati? Rasanya tidak. Hanya saja, para marketer harus menemukan formula beriklan yang tepat kalau tidak ingin bujet iklannya menguap sia-sia.

Kreativitas memang hal yang penting dalam periklanan. Hanya saja, ada hal yang lebih penting dari itu. Para marketer perlu mengenali betul siapa target konsumen mereka.

Pengenalan pasar yang tepat akan menentukan banyak hal. Misalnya, dengan mengetahui siapa target pasar yang dituju, kita akan tahu pesan seperti apa yang cocok. Kita juga akan tahu media apa yang dapat menjangkau mereka. Hal tersebut tentu akan membuat bujet iklan mengalir secara efisien ke tempat yang tepat.

Indonesia saat ini masih menjadi negara dengan belanja iklan yang cukup besar. Bahkan menurut eMarketers, pertumbuhan belanja iklan digital Indonesia adalah yang tertinggi di Asia Pasifik.

Mereka memperkirakan pertumbuhan ini akan terus naik hingga 2016 mendatang. Sangat menjanjikan. Tak mengherankan bila pasar Indonesia menjadi pasar yang semakin menggiurkan bagi pasar periklanan global.

Pertanyaannya, apakah belanja iklan yang demikian besar telah menyentuh pasar yang dituju? Jawabannya, belum tentu. Tahukah Anda bahwa menurut data dari econsultancy.com, sebanyak 95% responden dalam survei yang mereka lakukan menyatakan tidak percaya dengan iklan?

Sementara 58% responden setuju bahwa perusahaan hanya ingin menjual produk atau layanan mereka, tapi belum tentu tertarik memberikan produk dan layanan yang tepat bagi konsumen. Nah lho!

Iklan Efektif ≠ Iklan Sukses

Jadi, apa yang perlu kita lakukan? Tentu jawabannya bukan dengan berhenti beriklan, karena iklan terbukti tetap menjadi elemen penting dalam penjualan sebuah produk atau jasa. Hanya saja, kita perlu mengubah persepsi kita tentang iklan.

Ada beberapa mitos dalam dunia periklanan. Salah satunya adalah anggapan bahwa iklan harus persuasif agar efektif. Ternyata faktanya tidak demikian. Justru iklan-iklan hard-selling terbukti kurang efektif.

Menurut Judd Labarthe, seorang praktisi periklanan, konsumen tidak membutuhkan marketing. Mereka membutuhkan hiburan, pendidikan, serta pengalaman yang berarti dan relevan dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Sudahkah hal ini diberikan oleh para pengiklan?

Hal lain yang juga menarik dicermati adalah kaitan antara iklan dengan ketersediaan barang atau jasa yang ditawarkan. Masih menurut Labarthe, konsumen tidak membeli merek yang dicintai, melainkan merek yang mereka temukan.Jadi, sangat penting memastikan bahwa produk dan jasa yang ditawarkan dalam sebuah iklan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tugas seorang marketer lah membuat merek mudah ditemui, sehingga konsumen mudah membelinya. “Get noticed, get remembered,” begitu kata Labarthe. Menurutnya iklan yang efektif tidak serta merta membuatnya menjadi iklan yang sukses. Iklan yang sukses adalah jenis iklan yang membuat sebuah merek mudah dibeli.

Kata Kuncinya Kolaborasi 

Kalau pesan sangat penting, cara beriklan juga penting, ketersediaan barang dan jasa yang diiklankan pun tak kalah penting, pertanyaannya, apakah media beriklan juga penting? Jawabannya sudah jelas, ya.

Pesan sebaik apapun dan iklan sekreatif apapun menjadi tidak ada artinya ketika dikomunikasikan melalui media yang tidak tepat. Memilih media beriklan selalu menjadi bahan diskusi menarik di kalangan para marketer.

Ketika media komunikasi belum sebanyak sekarang, pemilihan media tidak sememusingkan itu. Tapi kini, dengan begitu banyak alternatif media komunikasi, marketer harus lebih cerdas, kritis, dan tajam dalam menentukan media beriklan.

Perlukah saya beriklan di media luar ruang? Efektifkah televisi untuk menayangkan iklan ini? Haruskah saya beriklan di internet? Bagaimana dengan media sosial? Mana yang harus diutamakan, media konvensional atau media baru?

Pertanyaan-pertanyaan itu hanya sedikit dari sekian banyak pertanyaan yang muncul kita marketer akan beriklan. Hando Sinisalu, Founder dan CEO Best Marketing mengatakan bahwa media yang tepat adalah media di mana konsumen kita berada.

Kalau konsumen kita lebih banyak nonton televisi ketimbang berinternet, itu berarti televisi adalah media yang tepat untuk beriklan. Tapi kalau sebaliknya, mungkin iklan digital adalah pilihan yang lebih tepat.

Hal lain yang juga penting diingat oleh para marketer adalah konsep kolaborasi. Saat ini bukan soal mana media yang lebih kuat, media konvensional atau media digital. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana membangun kolaborasi yang baik antara kedua media tersebut.

Masing-masing media memiliki kekuatannya sendiri-sendiri. Kehadiran media digital juga tidak serta merta akan mematikan media konvensional. Ketika radio lahir, banyak orang mengatakan media cetak akan mati. Nyatanya surat kabar dan majalah masih sangat hidup hingga hari ini, meski surat kabar di beberapa negara diperkirakan akan mati.

Begitu juga halnya ketika televisi lahir, media konvensional lain tetap hidup. Hal ini rasanya tidak akan berbeda dengan kehadiran media digital. Beberapa perubahan akan terjadi seiring perkembangan teknologi, namun rasanya tidak akan membuat media konvensional mati.

Itu sebabnya kolaborasi adalah hal yang sangat penting untuk memaksimalkan kekuatan masing-masing media. Pada akhirnya iklan juga adalah sebuah kolaborasi antara pesan yang cerdas, kreativitas dalam penyajian, dan pemilihan media yang tepat. Pertanyaannya, sudahkah kita membuat kolaborasi yang tepat dalam iklan kita?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s