Seasonal Marketing: Seni Memasarkan dengan Gelombang Musim

seasonal marketing

Gambar diambil dari sini

Ketika gelombang menghantam, menarilah bersamanya. Inilah prinsip dasar dalam seasonal marketing. Sudahkah kita menguasai seni menari bersama gelombang musim?

Kapan terakhir kali Anda mendatangi mal dan belanja cukup banyak? Kalau saya sepertinya menjelang lebaran lalu. Waktu itu saya sibuk belanja keperluan untuk lebaran dan mudik. Saya tentu tidak sendiri. Sebagian masyarakat Indonesia, bahkan mungkin termasuk Anda juga melakukan hal yang sama.

Pada dasarnya belanja di momen-momen perayaan atau musim tertentu bukan hanya kebiasaan orang Indonesia. Semua orang di jagat ini juga punya kebiasaan yang sama. Yang berbeda hanya perayaan dan musimnya. Kita memang memiliki kecenderungan berbelanja lebih banyak di musim-musim tertentu.

Pemasar manapun tentu membaca perilaku seperti ini sebagai peluang. Pemanfaatan musim tertentu seperti ini di dunia marketing dikenal dengan istilah seasonal marketing.

Itu adalah strategi pemasaran yang memanfaatkan kenaikan demand pada event atau musim tertentu. Berbagai macam promo yang digelar selama Lebaran, Natal, Imlek, Valentine, atau masa liburan sekolah merupakan contoh nyata seasonal marketing.

Hal yang paling indah dari musim-musim seperti ini, kebanyakan konsumen berubah menjadi pembelanja yang “serius”. Mereka tidak hanya melihat-lihat kemudian sibuk membandingkan barang satu dengan yang lainnya yang pada akhirnya mungkin menunda untuk melakukan pembelian.

Di musim-musim tertentu, kata kuncinya adalah “sekarang”. Konsumen menginginkan suatu barang, sekarang, terlepas dari ia membutuhkannya atau tidak.

Perilaku seperti ini tentu peluang emas bagi para marketer. Ini adalah kesempatan untuk mendongkrak sales. Masalahnya, tidak semua kesempatan pada akhirnya sungguh-sungguh menghasilkan seperti yang perkirakan sebelumnya. Kalau cara kira menfaatkan kesempatan itu salah, tentu hasilnya tidak akan seperti yang diharapkan sebelumnya.

Untuk itu para marketer perlu memahami dengan baik tentang seasonal marketing itu sendiri. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi follower tanpa bisa menawarkan sesuatu yang berbeda ke hadapan konsumen. Di samping itu, cara kita memandang seasonal marketing tentu akan menentukan langkah kita dalam memanfaatkannya.

Dongkrak Penjualan, Bangun Relationship

Cara pandang yang tepat tentu akan menghasilkan strategi yang tidak hanya memberikan keuntungan jangka pendek, tapi juga berdampak positif pada merek dalam jangka panjang.

Sebaliknya, cara pandang yang kurang tepat juga akan menghasilkan strategi yang mungkin hanya menguntungkan dalam jangka pendek, namun merugikan merek dalam jangka panjang.

Kalau begitu pertanyaannya, bagaimana sebaiknya kita melihat seasonal marketing? Tidak bisa dipungkiri seasonal marketing adalah kesempatan kita mendorong sales sebanyak mungkin.

Mengapa tidak? Konsumen sedang semangat-semangatnya membelanjakan uang mereka. Bahkan sebagian konsumen akan belanja secara membabi buta di musim tertentu. Sungguh aneh kalau tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan penjualan produk atau jasa kita.

Hanya saja, jangan hanya memandang seasonal marketing semata-mata untuk meningkatkan penjualan. Seasonal marketing seharusnya juga dipandang sebagai salah satu kesempatan emas untuk membangun relationship yang lebih dekat dengan pelanggan kita. Dengan harapan hal tersebut dapat meningkatkan resonansi merek kita.

Demi meraih dua tujuan tersebut – menaikkan sales dan membangun relationship dengan pelanggan – kita perlu strategi seasonal marketing yang unik dan berbeda dari merek lain.

Ketika kita ikut “merayakan” sebuah musim bersama hampir semua merek, sangat mungkin merek kita larut di dalamnya. Tanpa sebuah strategi yang kuat dan berbeda, kita akan tampak sama dengan yang lain.

Penawaran yang sama ini tidak saja membuat merek kita sulit diingat oleh konsumen, hal tersebut juga akan membuat kita tergelincir pada perang promo. Siapa yang bisa menawarkan promo paling menguntungkan atau diskon paling besar, mereka lah yang akan dipilih konsumen.

Di antara penawaran yang nyaris sama, alasan konsumen membeli pun menjadi terfokus pada promo yang paling menguntungkan bagi mereka. Jangan-jangan mereka juga tidak ingat merek mana yang diskonnya paling besar. Itu sebabnya kita butuh strategi yang mampu membuat merek tampil “beda”.

Untuk itu, kita butuh persiapan yang matang. Jangan merencanakan seasonal marketing ketika musimnya sudah ada di depan pintu. Kita tidak akan mungkin membuat sesuatu yang berbeda tanpa persiapan yang cukup. Dari jauh-jauh hari kita sudah harus membuat rencana dan strategi.

“Ketika menjalankan seasonal marketing, mindset kita jangan “gue juga bisa”. Marketer harus bisa menciptakan kegiatan seasonal marketing yang berbeda dan sulit ditiru oleh merek lain,” begitu saran Wahyu T. Setyobudi, pengamat pemasaran yang juga dosen di PPM Manajemen.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan ketika merancang strategi seasonal marketing adalah aspek emosional kegiatan tersebut. Perayaan merupakan sesuatu yang emosional.

Itu sebabnya kegiatan pemasaran selama perayaan tersebut pun harus menyentuh sisi emosional konsumen. Kita harus memiliki resonansi yang sama dengan konsumen kita, hanya dengan begitu sebuah relationship yang lebih dekat dapat terbangun.

Ciptakan Musim Sendiri

Hampir semua marketer di Indonesia telah menjadikan seasonal marketing sebagai bagian dari strategi marketing mereka. Meski begitu seasonal marketing belum tergarap secara maksimal. Marketer kita kebanyakan hanya menjalankan seasonal marketing di musim-musim yang “mainstream”.

Marketer kita belum banyak yang mencoba menciptakan musim mereka sendiri. Padahal hal ini sudah banyak diterapkan di negara lain. Tidak usah jauh-jauh, di Korea Selatan misalnya beberapa merek sukses menciptakan musim mereka sendiri yang akhirnya dirayakan secara luas.

Pernah mendengar tentang Pepero Day? Di Korea Selatan Pepero Day diperingati setiap tanggal 11 November untuk menunjukkan perasaan sayang, baik terhadap teman maupun pasangan.

Pepero Day sendiri diambil dari nama snack stik cokelat bernama Pepero yang diproduksi oleh Lotte Confectionery. Pada perayaan tersebut orang-orang saling bertukar Pepero.

Ini adalah salah satu perayaan yang diciptakan dengan cerdik oleh Pepero dan pada akhirnya dirayakan secara luas. Pada tahun 2012, 50% dari penjualan tahunan Lotte diperoleh dari penjualan Pepero selama Pepero Day.

Di Indonesia hal seperti ini belum banyak dilakukan. Padahal potensinya begitu besar. Namun, memang hal ini membutuhkan tidak saja pemahaman mendalam mengenai seasonal marketing, tapi juga pemahaman terhadap kultur dan tentunya kreativitas dalam menciptakan berbagai event.

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para marketer kita. Bagaimana mereka dapat menciptakan suatu perayaan yang akhirnya dapat dirayakan secara luas. Hal ini tidak saja akan mendorong penjualan, tapi juga memperkuat positioning dan resonansi merek dengan para pelanggannya.

Mari kita tunggu aksi marketer Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s