Komunitas: Teman Seperjalanan dalam Membangun Merek

komunitas

Gambar diambil dari sini

Kehadiran teman seperjalanan yang dapat menemani dan membantu dalam mencapai sesuatu selalu menyenangkan. Begitulah komunitas bagi merek dalam pembangunan merek.

Dengan siapa Anda senang menghabiskan waktu luang selain bersama keluarga tercinta? Kalau saya, dengan teman-teman yang memiliki kesamaan hobi. Saya senang berkumpul dengan teman-teman yang juga hobi menulis dan memiliki minat terhadap buku.

Saat berkumpul kami ngobrol santai, bertukar pikiran, informasi tentang buku-buku baru yang menarik, dan cerita-cerita seputar kegiatan menulis dan membaca. Apa yang saya lakukan tentu sesuatu yang juga dilakukan banyak orang lainnya, termasuk Anda sendiri mungkin.

Itu sebabnya berkembangnya banyak komunitas menjadi sesuatu yang tak terelakan. Hal tersebut merupakan wadah yang mengakomodir kebutuhan dan keinginan untuk berbagi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan minat dan pemikiran.

Hampir segala hal ada komunitasnya. Mulai dari komunitas pengendara sepeda, pengendara motor, penggemar komik, hingga komunitas orang-orang yang hobi memasak, bercocok tanam, mendongeng, atau penggemar drama Korea pun ada.

Salah satu yang khas dari komunitas-komunitas ini adalah ikatan antar anggotanya yang kuat. Hal ini mungkin karena mereka memiliki kesamaan minat, pemikiran, dan berkomunikasi secara intens.

Hal ini membentuk ikatan yang mirip dengan persaudaraan. Maka tak mengherankan bila kita sering melihat betapa guyubnya sebuah komunitas pengendara motor merek tertentu misalnya.

Di antara banyak komunitas tersebut ada juga komunitas-komunitas yang mewadahi para penggemar merek tertentu. Misalnya saja komunitas iPhonesia, Komunitas BlackBerry Indonesia, Mercedes-Benz Club Indonesia, Nissan-Datsun Club Indonesia, dan masih banyak lagi. Mereka adalah pengguna, pecinta, dan beberapa di antaranya adalah penggemar fanatik merek tertentu.

Eratnya hubungan antar anggota komunitas dan keaktifan mereka berkomunikasi menjadi daya tarik tersendiri bagi merek. Dengan cara yang tepat komunitas dapat dijadikan salah satu strategi marketing maupun branding perusahaan.

Hal ini dikenal dengan istilah community marketing. Dengan pendekatan yang tepat, komunitas bisa menjadi duta merek yang sangat kuat. Mereka bisa menjadi pembela merek nomor wahid.

Bangun Ikatan Emosional dengan Komunitas

Pertanyaannya, mengapa komunitas, terutama komunitas merek, begitu berarti bagi merek? Mungkin kita bisa berangkat dari isu loyalitas dan engagement terhadap merek yang terus menurun. Menghadapi hal ini, perusahaan menemui sebagian jawabannya pada komunitas.

Pada dasarnya manusia ingin menjadi bagian dari sesuatu. Mereka juga ingin dimengerti. Kedua hal ini biasanya diperoleh dari keluarga, pertemanan, dan juga komunitas. Ketika merek memilih untuk fokus pada komunitas, sebenarnya mereka sedang membangun ikatan emosional.

Ikatan emosional yang kuat merupakan kunci engagement dan loyalitas konsumen. Pada dasarnya konsumen ingin dimanusiakan oleh merek. Kita tentu tidak ingin dipandang semata-mata sebagai mesin penghasil uang oleh perusahaan, kan?

Itu sebabnya untuk mendapatkan loyalitas, produk berkualitas saja tidak cukup. Melakukan pendekatan emosional juga harus dilakukan.

Ketika perusahaan membentuk komunitas baru maupun menggandeng yang telah ada, maka mereka sedang merangkul konsumen dan membangun hubungan “pertemanan” dengan konsumen, dan bukan hanya satu melainkan sekelompok konsumen.

Sama halnya dengan hubungan pertemanan pada umumnya, kita tentu tidak ingin “mengkhianati”teman sendiri, bukan? Kalaupun kita tidak membeli produk, tentu kita juga tidak akan membeli merek kompetitor. Setidaknya, kita akan merekomendasikan merek yang menjadi teman kita yang lain.

Nah, itu berarti ada word-of-mouth yang terjadi. Kita semua tentu tahu betapa cespleng metode tersebut untuk memasarkan produk maupun meningkatkan awareness. Itu sebabnya komunitas bisa menjadi duta merek yang baik.

Karena ikatannya bukan bersifat komersial, melainkan emosional. Yang lebih hebat, mereka adalah sekelompok duta merek. Sudah pasti dampaknya akan lebih besar dari duta merek perseorangan.

Namun, karena yang mendasari hubungan antara perusahaan dan komunitas adalah hubungan emosional, maka kunci memenangkan hati komunitas adalah melalui nilai-nilai yang diperjuangkan bersama.

Jangan bicara tentang hal-hal komersial dengan komunitas. Bicaralah tentang nilai-nilai perusahaan dan bagaimana kolaborasi perusahaan dengan komunitas dapat berkontribusi pada pembangunan masyarakat.

Sudah banyak perusahaan yang membuktikan hal ini. Di luar negeri ada Nike, Apple, Google, Starbucks, dan Kiehl’s yang sukses membangun merek yang kuat melalui komunitas. Di Indonesia sendiri memang belum banyak, tapi bukan tidak ada. Misalnya saja Polygon, Microsoft Indonesia, dan Achilles.

Mindset Perusahaan Harus Tepat

Meski begitu, menggandeng komunitas dalam kegiatan marketing maupun branding harus dilakukan dengan mindset yang tepat. Perusahaan harus siap membuka diri dan menerima setiap kritik yang masuk. Bagaimanapun juga membuka diri dengan komunitas bukan tanpa risiko.

“Akan ada banyak kritik dari komunitas tentang produk atau jasa yang diberikan perusahaan,” begitu Agus W. Suhadi, pakar pemasaran dari Prasetiya Mulya Business School yang selama ini melakukan riset tentang komunitas. Banyak perusahaan yang tidak siap dengan hal ini.

Pada prinsipnya, ketika kita siap menggandeng komunitas dalam melakukan kegiatan pemasaran dan branding, maka kita juga harus siap menghadapi segala kritik. Kritik tersebut harus dipandang sebagai bagian dari proses meningkatkan kualitas perusahaan.

Sikap merasa paling tahu tentang produk harus dibuang jauh-jauh oleh para pemilik merek. Perlu dipahami bahwa kritik yang diberikan komunitas merupakan bentuk rasa sayang mereka terhadap merek.

Komunitas = Lab Pengembangan Produk

Kalau perusahaan mau membuka diri, hal ini justru dapat sangat bermanfaat bagi pengembangan produk perusahaan di masa mendatang. Inilah keuntungan jangka panjang dari community marketing yang justru sulit tak ternilai harganya.

Komunitas dapat memberikan ide dan gagasan bagi perusahaan untuk mengembangkan sebuah produk baru. Tak hanya itu, mereka juga dapat berfungsi sebagai laboratorium. Dengan kehadiran komunitas proses yang harus dilalui sebuah produk baru untuk dirilis ke pasar akan lebih pendek.

Jangan berpikir jangka pendek ketika berhubungan dengan komunitas. Karena nilai terbesar mereka adalah kontribusinya pada perusahaan dan merek dalam jangka panjang. Dengan community marketing, diharapkan merek akan selalu relevan dengan konsumennya. Bukankah itu yang diinginkan oleh semua merek?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s