E-Commerce Sang Primadona Baru

e-commerce

Gambar diambil dari sini

Beberapa waktu yang lalu, saya nongkrong dengan beberapa teman. Sangat wajar di antara teman-teman saling merekomendasikan sesuatu yang menarik, termasuk barang-barang dan toko-toko. Namun, ada yang berbeda dalam rekomendasi teman-teman saya kali ini.

Beberapa tahun yang lalu, yang mereka rekomendasikan adalah toko-toko offline dengan koleksi baju, sepatu, atau aksesoris yang unik. Sekarang yang mereka rekomendasikan adalah toko-toko online, baik berupa website atau akun media sosial, seperti Facebook dan Instagram.

Teman-teman saya bukanlah para tech-freak, meski juga nggak gaptek-gaptek amat. Dari mereka saya melihat bahwa memang sungguh sudah terjadi pergeseran yang sangat nyata dalam kebiasaan belanja orang-orang.

Lima atau sepuluh tahun yang lalu, orang-orang mungkin memang belum familier dengan transaksi online. Beli barang ya datang ke toko untuk melihat langsung bendanya dan menjajalnya. Tapi sekarang orang-orang sudah sangat terbiasa dengan belanja online.

Ketika akan membeli suatu barang yang pertama kali dilakukan adalah mencarinya di internet. Kalaupun akhirnya tetap membeli barang di gerai offline, hampir selalu ada proses online yang mengiringinya. Mulai dari membaca review konsumen hingga membandingkan harga.

E-Commerce Indonesia: The Next Big Thing

Perubahan ini membuat Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial untuk bisnis e-commerce. Secara umum, Asia Tenggara memang sedang menjadi buah bibir karena pertumbuhan pasarnya yang sangat pesat.

E-commerce menjadi salah satu sektor yang paling hot saat ini di Asia Tenggara. Menurut Tech in Asia, sepanjang tahun 2013 investor menggelontorkan dana hingga lebih dari satu miliar dolar untuk startup e-commerce di Asia Tenggara.

Di wilayah Asia Tenggara, Indonesia menjadi negara yang dianggap paling potensial. Dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa – terbanyak keempat di dunia – dan jumlah pengguna internet sebanyak 73 juta, Indonesia diperkirakan akan menjadi salah satu pasar e-commerce terbesar di dunia.

Berbagai studi memperkirakan pengguna internet di Indonesia bakal tumbuh menjadi 90 – 95 juta user pada tahun 2015. Itu artinya sudah lebih dari 30% dari total populasi penduduk di Indonesia.

Sementara kepemilikan smartphone akan tumbuh dari 20% saat ini menjadi 52% pada 2017. Tak mengherankan kalau banyak pihak mulai melirik Indonesia.

Potensi yang demikian besar mulai memikat banyak orang untuk ikut menikmati pasar ini. Banyak pemain lokal yang masuk ke bisnis e-commerce, tak sedikit pula pemain global yang ikut nimbrung untuk menikmati manisnya pasar e-commerce Indonesia.

“Saat ini pasar e-commerce di Indonesia sedang bagus-bagusnya,” begitu kata Daniel Tumiwa, Ketua idEA (Asosiasi e-Commerce Indonesia). Jadi, ini memang saat yang tepat untuk masuk ke bisnis e-commerce.

Vertikal, Bukan Horizontal

Meski begitu, kita tidak bisa sembarang masuk ke pasar ini tanpa punya strategi yang jelas. E-commerce meski memiliki potensi yang sangat menggiurkan, namun bukan pasar yang mudah ditaklukkan. Para pemain yang masuk harus punya positioning yang jelas.

Menurut pakar e-commerce ritel, Susie Sugden saat ini memang Indonesia tampak menganut filosofi “bigger is better”. Hal ini terlihat dengan banyak tumbuh marketplace seperti Kaskus, Tokobagus (sekarang OLX), dan toko-toko online yang menjual segala macam barang.

Namun, ia memperkirakan hal ini tidak akan berlangsung lama. Nantinya, konsumen akan mencari toko-toko yang spesialis menjual barang tertentu. Apa yang dikatakan oleh Sugden ini senada dengan apa yang dikatakan Daniel Tumiwa.

Ia mengatakan bahwa kalau mau masuk ke pasar e-commerce, apalagi bila modalnya terbatas sebaiknya memilih untuk menjadi spesialis di bidang tertentu saja. “Jangan mencoba melawan yang generalis. Itu akan susah,” katanya.

Hal tersebut sudah terlihat saat ini. E-commerce yang memperoleh kesuksesan besar adalah e-commerce spesialis. Sebut saja Tiket.com, HijUP, Bilna, dan masih banyak lagi. Menurut Sugden, e-commerce ritel spesialis adalah versi online dari “category killer

Category killer” merupakan sebuah model bisnis yang tidak saja sukses secara offline tapi juga offline. E-commerce seperti ini memang tidak memiliki pasar sebesar yang generalis, namun biasanya mereka bisa memperoleh marjin dan profit yang lebih tinggi. Hal itu karena mereka dapat membangun loyalitas merek dan menjadi “penguasa” di kategorinya.

Model bisnis ini sangat cocok bagi para startup dan pengusaha muda yang baru akan masuk ke dalam bisnis ini. Modal kecil pun tidak masalah. Yang paling penting mereka mempunyai strategi pengembangan bisnis yang jelas.

“Sebenarnya yang paling penting siapapun yang ingin masuk ke bisnis e-commerce harus menyadari bahwa ini bisnis yang butuh modal dan perencanaan bisnis yang jelas. Bisnis online bukan bisnis tanpa modal, meski modal yang dibutuhkan relatif kecil,” jelas Daniel Tumiwa yang saat ini juga menjabat sebagai VP E-Commerce Garuda Indonesia Airlines.

Sayangnya, banyak orang yang masuk ke bisnis ini tidak menyiapkan usahanya dengan baik. Mereka hanya mengandalkan media sosial tanpa memikirkan dengan baik pengembangan bisnisnya. Itu sebabnya banyak toko online yang akhirnya mati.

Hal lain yang juga disayangkan adalah kekurangberanian investor dalam negeri masuk ke bisnis e-commerce. Akibatnya, kekosongan ini justru diisi oleh para pemain asing. Alangkah meruginya kita – para pelaku bisnis lokal – bila pada akhirnya “kue” yang besar ini malah lebih banyak dicaplok oleh pemain asing.

Transfer Itu Merugikan

Persoalan lain yang juga menghambat perkembangan bisnis e-commerce di tanah air adalah kebiasaan orang-orang untuk melakukan transaksi dengan cara pembayaran melalui transfer. “Bukan salah orangnya sebenarnya. Itu keterbatasan pilihan yang tersedia belum selengkap sekarang,” ujar Daniel.

Namun, saat ini pilihan metode pembayaran sudah lebih lengkap. Menurut Daniel sudah waktunya kebiasaan membayar melalui cara transfer ditinggalkan. Konsumen harus diajak untuk mulai beralih ke sistem pembayaran online.

Hal ini tidak saja akan mendorong peningkatan angka koversi karena mencegah terjadi pembatalan transaksi akibat proses transaksi yang terputus. Cara ini juga akan mengurangi risiko terjadinya masalah dalam transaksi, misalnya penipuan.

Isu keamanan transaksi memang menjadi isu yang menghalangi orang untuk bertransaksi melalui e-commerce. Untuk itu, semua pihak harus bekerja sama agar transaksi berjalan secara aman dan nyaman, termasuk pembeli itu sendiri.

Meski sudah ada Undang-Undang yang membahas mengenai hal tersebut, namun belum ada peraturan yang secara detail mengatur tentang transaksi online. Di sinilah dibutuhkan peran pemerintah.

Pada akhirnya yang membutuhkan perlindungan tidak saja para pembeli, tapi juga para penjual. Hal ini agar kedua belah pihak merasa aman dan terlindungi.

Penetrasi internet dan meluasnya penggunaan smartphone membuat meledaknya pasar e-commerce hanya soal waktu. Kapan waktu yang tepat untuk masuk ke bisnis ini? Jawabannya, sekarang! Pertanyaannya, siapkah Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s