Pasar Perempuan: Kuasa di Balik Kerling Mata Si Cantik

Pasar Perempuan

Foto diambil dari sini

Sekarang perempuan punya suara yang lantang dan daya beli yang besar. Tapi hanya mereka yang mengerti perempuan yang bisa menikmati besarnya potensi pasar perempuan. Andakah itu?

Pernah nggak Anda mengalami atau melihat pacar atau istri Anda bilang tidak punya baju di hadapan lemari terbuka yang penuh dengan baju? Saya? Sering. Saya bisa berdiri di hadapan lemari yag sarat dengan pakaian tapi mengeluh nggak punya baju.

Ujung-ujungnya pergi ke mal dengan niat membeli pakaian yang saya bayangkan cocok dengan acara yang bakal saya datangi. Sudah tahu sih mau beli baju yang seperti apa, tapi ya harus melihat semua toko dulu dong sebelum memutuskan untuk beli.

“Nanti kalau ternyata di toko sebelah ada yang lebih lucu dan murah gimana?” begitu pikiran saya. Jadilah saya berkeliling melihat-lihat dari toko pertama di lantai satu hingga toko ke sepuluh di lantai lima. Hasilnya, kembali ke toko pertama karena ternyata di sana yang penawarannya paling oke.

Ribet? Ya memang. Tadinya saya pikir itu hanya saya saja. Tapi ternyata itu dilakukan oleh hampir semua perempuan. Bikin kesal? Ya, terutama untuk suami atau pacar yang ketiban sial harus nganterin “nyonya” belanja. Tapi ya itulah perempuan.

Eit, tunggu. Itu belum semua, sambil mencari baju idaman tadi, perempuan bisa saja bolak-balik nyangkut di outlet yang di depannya ada tulisan “sale”. Sale bo! Apalagi kalau diskonnya sampai 80%. Sudah pasti nyangkut, dan bisa jadi membeli meskipun kemudian barang yang dibeli cuma diskon 50%.

Pernah lihat perempuan-perempuan cantik tiba-tiba menjadi beringas? Kalau belum silakan datang ke midnight sale di mal. Anda akan melihat betapa perempuan yang lucu imut-imut bisa berubah menjadi singa betina yang mengerikan.

Kekuatan Pasar Si Tukang Belanja

Dari sini, kita bisa melihat beberapa hal. Pertama, perempuan suka belanja. Mereka merasa gembira, belanja. Mereka bete, juga belanja. Mereka sedih, apalagi, bahkan lebih banyak dari biasanya.

Jadi, tidak mengherankan kalau hasil dari banyak riset menunjukkan bahwa perempuan berkontribusi sangat besar dalam total belanja dunia. Menurut Spire Research and Consulting, kontribusi pasar perempuan pada total pengeluaran global mencapai 65%. Angka yang cukup fantastis.

Sementara menurut Boston Consulting Group, dalam empat tahun ke depan pendapatan perempuan akan naik dari 13 triliun dolar AS menjadi 18 triliun dolar AS. Kenaikan sebesar 5 triliun dolar AS ini hampir sama dengan pertumbuhan GDP Cina dan India bila digabungkan.

Mereka juga memperkirakan pada 2028, perempuan akan mengontrol sekitar 75% dari total pengeluaran dunia. Luar biasa, kan? Begitu besarnya potensi pasar perempuan.

Hal lain yang membuat potensi pasar perempuan begitu besar adalah karena perempuan adalah konsumen yang relatif tidak stabil. “Mereka sangat mudah digoyang. Mudah dipengaruhi dan diiming-imingi,” jelas Judy Uway, seorang praktisi komunikasi dan periklanan.

Price Does Matter

Kedua, perempuan itu sangat sensitif terhadap harga. Hal ini dapat menjelaskan mengapa mereka memutari mal dalam mencari barang untuk akhirnya kembali ke toko pertama yang ia datangi.

Itu karena mereka mencari toko yang memberi penawaran paling bagus. Model paling keren dengan harga yang sebanding. Mungkin bukan yang paling murah, tapi yang paling sebanding dengan apa yang mereka dapatkan.

Itu juga menjelaskan mengapa perempuan rela pergi jauh dan antri di supermarket hanya untuk membeli minyak goreng promo yang harganya hanya selisih 600 rupiah dari yang biasa dia beli. Itu karena perempuan sangat sensitif terhadap harga. Mereka bisa dengan mudah berganti merek hanya karena harga yang selisih 600 rupiah.

Di kutub yang berlawanan, perempuan rela membeli barang yang mahalnya bahkan di luar akal sehat kita. Kalau orang menggunakan uang Rp 1,2 miliar untuk membeli rumah atau mobil, perempuan bisa menghabiskannya hanya untuk membeli sepatu atau tas.

Price sensitive itu ada dua. Ada yang semakin murah, semakin dicari. Ada juga yang semakin mahal justru makin dicari. Tapi kalau bicara yang kedua, kita tentu bicara kelas A+++. Sangat niche,” jelas Judy.

Apakah sensitif terhadap harga artinya konsumen perempuan tidak loyal? Oh bukan. Mereka bisa sangat loyal dengan suatu merek ketika sudah memiliki hubungan yang mendalam. Merasa dekat dan merasa merek tersebut memahami kebutuhannya. Misalnya saja merek kosmetik atau suplemen.

Menurut Judy, perempuan itu loyal terhadap sesuatu yang berdampak ke dalam dirinya. “Perempuan tidak akan mudah digoyang bila berhubungan dengan sesuatu yang sifatnya berdampak ke dalam dirinya, seperti kosmetik atau suplemen. Tapi kalau sifatnya ke luar seperti pakaian, sepatu, atau jam tangan mereka relatif mudah digoyang,” jelas Presiden Direktur Optima Media Dinamika ini.

It’s All About Beauty

Ketiga, perempuan sangat peduli pada kecantikan. Ini menjelaskan mengapa mereka ribut tidak punya baju padahal ada selemari pakaian di rumah yang bisa dipilih. Mereka ingin tampil cantik ketika bertemu dengan orang lain. Pakaian hanya sebagian kecil yang dikenakan perempuan agar mereka bisa tampil cantik.

Kalau urusannya dengan kecantikan perempuan rela mengorbankan banyak hal, termasuk uang dan kenyamanan. Kadang kala mereka rela merogoh kocek melebihi yang sanggup mereka keluarkan hanya untuk tampil cantik. Rela kaki sakit ketika menggunakan high heels, hanya untuk terlihat cantik.

Itu sebabnya bisnis yang berhubungan dengan kecantikan ragawi perempuan adalah bisnis yang potensinya sangat besar. Ada begitu banyak hal yang bisa digali. Selalu ada hal yang bisa dibuat dan dikembangnya.

Sebut saja beragam macam teknik pelangsingan, berbagai jenis perawatan wajah dan tubuh untuk melawan penuaan, bermacam-macam teknik perawatan kulit, mulai dari menghalus kulit, mengusir jerawat, hingga memutihkan. Kita bahkan belum bicara tentang operasi plastik dan liposuction. Itu semua adalah bisnis ratusan bahkan miliaran rupiah.

Menurut Judy, pada dasarnya perempuan itu ingin cantik. “Perempuan rela menyiksa diri di gym itu kan sebenarnya juga ujung-ujungnya supaya cantik. Tubuh langsing, segar, dan sehat. Mengonsumsi makanan sehat juga muaranya supaya cantik kok,” katanya.

Strategi Memikat Si Cantik

Nah, dengan sifat-sifat seperti ini para marketer bisa menyusun strategi untuk memikat pasar perempuan. Misalnya, dari sisi komunikasi para marketer bisa menggunakan konsep cantik untuk menyasar pasar perempuan. Jangan lepaskan sisi ini ketika berkomunikasi dengan perempuan.

Ingat-ingat juga bahwa perempuan itu sensitif terhadap harga. Artinya, bukan berarti harus selalu menawarkan harga paling murah. Tapi kita harus mampu memberikan sesuatu yang sebanding dengan apa yang mereka keluarkan. Berikan apa yang mereka inginkan dan butuhkan, maka dengan rela hati mereka akan mengeluarkan uang untuk itu.

Kalau mereka merasa senang dengan apa yang kita tawarkan, perempuan tidak segan-segan merekomendasikannya kepada lingkungan sekitarnya atau bahkan menyebarluaskannya di media sosial. Perempuan adalah makluk yang sangat sosial. Kalau Anda lihat berbagai hasil riset, merekalah yang paling banyak menggunakan media sosial.

Perempuan pada dasarnya tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin dimengerti dan dipenuhi kebutuhan dan keinginannya. Pertanyaannya, sudahkah Anda memahami perempuan?

Sekarang sudah bukan lagi zaman perempuan ikut apa kata orang tua dan suami. Mereka punya suara sendiri, dan suara itu terdengar sangat lantang saat ini. Siapkah Anda menghadapi hal ini? Well, siap atau tidak mereka sudah menjadi kekuatan sangat besar di pasar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s