Menanti Aksi Para Entrepreneur Muda Indonesia

young entrepreneur

Foto diambil dari sini

Mereka muda, bersemangat, dan punya banyak ide dalam membangun bisnisnya. Di tangan merekalah masa depan Indonesia berada. Seperti apa aksi para pengusaha muda di dunia bisnis?

Coba tanyakan pada adik-adik Anda yang saat ini masih SMA atau kuliah, apa yang ingin mereka lakukan setelah lulus? Kemungkinan terbesarnya, mereka berniat membuat usaha sendiri alih-alih ingin bekerja di perusahaan tertentu.

Tren memang sudah bergeser. Kalau sekitar 10 tahun lalu orang bangga bekerja di perusahaan multinasional, sekarang anak-anak muda lebih bangga kalau memiliki bisnis sendiri. Jadi entrepreneur sekarang juga terkesan lebih keren daripada jadi karyawan.

Usia orang-orang yang terjun ke dunia wirausaha juga semakin lama semakin muda. sekarang anak muda usia 20an sudah memiliki bisnis. Mereka merintisnya bahkan sejak usia belasan tahun.

Hal ini jelas suatu hal yang sangat menggembirakan. Karena jumlah wirausahawan yang besar akan berimbas langsung pada pendapatan negara. Semakin banyak jumlah wirausahawan di suatu negara, akan semakin besar juga pendapatan negaranya. 

Jadi Entrepreneur Itu Keren

Dalam kasus Indonesia, meningkatnya jumlah entrepreneur, terutama yang berusia muda menunjukkan beberapa hal. Pertama, mulai berubahnya persepsi masyarakat tentang dunia kewirausahaan.

Dulu orang menganggap profesi entrepreneur tidak lebih dari pedagang. Konotasinya tidak terlalu baik. “Itu sebabnya orang zaman dulu lebih senang jadi priyayi. Tapi sekarang hal itu sudah bergeser,” kata Profersor Roy Sembel, seorang pengamat bisnis yang juga dosen di beberapa universitas.

Memang persepsi ini belum sepenuhnya hilang, tapi sudah banyak berubah dari 15-20 tahun yang lalu. Perubahan ini mengubah tidak saja pola pikir anak-anak muda, tapi juga para orang tua. Dulu kan orang tua nyaris memaksakan anaknya untuk bekerja di perusahaan tertentu. Menjadi entrepreneur dianggap tidak cukup baik.

Sekarang, orang tua mulai mendorong anak-anaknya untuk terjun ke dunia bisnis. Paling tidak, kalaupun belum sepenuhnya merelakan, mereka tetap mengizinkan anak-anaknya terjun ke dunia wirausaha.

Kedua, kesempatan untuk para wirausaha tumbuh dan berkembang semakin besar. Hal ini tentu tidak lepas dari peningkatan jumlah kelas menengah yang besar. “Pertumbuhan kelas menengah kita dalam 10 tahun terakhir mencapai lima kali lipat. Perekonomian kawasan Asia Tenggara sendiri juga mengalami kenaikan,” jelas Prof. Roy.

Hal ini membuat besaran pasar dan peluang usaha menjadi lebih besar. Kondisi tersebut menjadi lahan yang sangat subur untuk persamaian bibit wirausaha muda di Indonesia. Banyak pasar yang terbuka bagi setiap orang yang ingin terjun ke dunia wirausaha.

Ketiga, hal ini juga menunjukkan bahwa kampanye gencar yang mendorong orang terjun ke dunia wirausaha terbilang cukup berhasil meski faktanya secara kuantitas jumlahnya masih kurang. Perbandingan populasi penduduk Indonesia dengan jumlah entrepreneur-nya baru sekitar 1,56%. Padahal jumlah pengusaha di suatu negara paling tidak 2% dari total populasi.

Tingkatkan Skill, Perluas Network

Jadi meski tidak bisa dibilang mengecewakan, kita masih punya banyak pekerjaan rumah dalam hal kewirausahaan. Indonesia bukan saja perlu menambah jumlah wirausaha, tetapi juga meningkatkan kualitas setiap entrepreneur yang lahir.

Pada kenyataannya, sekarang ini banyak entrepreneur muda kita tidak memiliki cukup skill dan pengetahuan dalam berwirausaha. Tentu ini berdampak pada beberapa hal, salah satunya ketahanan dan kesinambungan bisnisnya. Kita tentu tahu berbisnis itu tidak bisa hanya mengandalkan semangat.

Setiap entrepreneur perlu mempunyai pengetahuan dan skill yang memadai untuk memulai bisnis. Mulai dari pengaturan keuangan, pemasaran, hingga pengembangan bisnis. Masalahnya sekarang ini, entrepreneur muda kita punya semangat besar, namun skill terbatas. Networking juga seadanya.

Bagaimana mengatasi hal ini? Menurut Roy Sembel, perlu ada kerja sama antara pemerintah dengan komunitas pengusaha yang ada. Pemerintah perlu membuat berbagai pelatihan untuk meningkatkan skill dan knowledge para pengusaha muda.

Sementara komunitas pengusaha sendiri perlu melakukan mentoring kepada pengusaha-pengusaha yang baru akan masuk atau yang sedang merintis usahanya. Mentoring ini perlu dilakukan untuk membentuk attitude bisnis para pengusaha muda dan sharing pengalaman tentunya.

Lebih jauh dari itu, mentoring ini bisa memperluas network para pengusaha muda. Hal ini sudah barang tentu bisa memperkuat bisnis mereka. Ingat, networking itu bukan cuma soal siapa yang kita tahu, tapi juga siapa yang tahu kita. Network yang kuat jelas akan mempermudah para pengusaha menjalankan dan mengembangkan bisnisnya. 

Jangan Masuk Perangkap Budaya Instan

Kemajuan teknologi dan kehidupan yang serba instan membuat kita terbiasa dengan budaya instan. Apa-apa maunya cepat. Padahal dalam bisnis tidak ada yang instan. Segala hal ada prosesnya.

Perangkap budaya instan adalah salah satu yang harus dihindari oleh para pengusaha, terutama yang usianya muda. Kalau tidak hati-hati mereka bisa dengan mudah terperangkap di dalamnya.

Misalnya memilih bisnis yang bisa menguntungkan dengan cepat serta mengambil langkah yang mudah dan menyenangkan saja.Tidak ada yang salah dengan itu, tapi hal tersebut tidak selamanya benar.

Kadang kala kita harus memilih jalan memutar yang lebih panjang dan sulit agar bisnis kita kuat dan punya daya saing. Contohnya begini, sekarang banyak pengusaha muda yang membangun bisnis berbasis teknologi. Tidak ada yang salah dengan ini bila memang kita punya karakteristik yang unik, berbeda dari yang lain.

Namun, bisnis teknologi tidak bisa dibilang bisnis yang sangat unik. Karena negara lain juga bisa mengembangkan hal yang sama. Kita di Indonesia sebenarnya punya pilihan lain yang negara lain sulit menirunya. Banyak potensi khas Indonesia yang belum dikembangkan secara maksimal. Misalnya keanekaragaman hayati atau bisnis-bisnis di bidang kelautan.

Ada banyak peluang bisnis yang belum tergarap di sana yang patut dilirik oleh para entrepreneur atau calon entrepreneur kita. Masalahnya, untuk mengembangkan sektor ini dibutuhkan waktu yang lebih panjang. Bukan itu saja, dibutuhkan skill yang lebih banyak dan tentunya stok sabar yang banyak.

Sekarang pertanyaannya, siapkah para entrepreneur muda kita untuk mengembangkan habis-habisan potensi Indonesia yang terserak menunggu digarap? Untuk itu diperlukan skill, knowledge, attitude, dan network yang baik. Mari kita nantikan kiprah para pengusaha muda Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s