Jadi Entrepreneur: Tujuan Lo Apa?

entrepreneur

Gambar diambil dari sini

Ketika mulai usaha, dari mana kita harus mulai? Dari menentukan awalnya, atau justru dengan menentukan akhirnya?

Tren paling hot sekarang adalah menjadi entrepreneur. Semua orang sekarang berebut jadi entrepreneur, mau yang iseng-iseng, paruh waktu, ataupun full time. Orang nggak malu-malu lagi jualan, apapun produk atau jasanya.

Memang nggak semua yang jualan mau jadi pengusaha serius. Tapi perlu diakui jumlah orang yang tertarik jadi pengusaha serius makin banyak dan umurnya makin muda.

Sebenarnya sih nggak ada yang terlalu berbeda antara pengusaha yang muda dan tidak muda. Orang bilang kan umur hanya perkara angka.

Tapi perlu diakui sebagian orang menganggap orang-orang muda itu kurang pengalaman dan kurang dewasa. Anggapan tersebut sebagian boleh jadi benar.

Ya, pengalaman mungkin kurang. Tapi itu bisa disiasati dengan terus belajar. Belajar itu bisa dari mana saja. Dari buku, mentor, atau dari kejadian sehari-hari.

Semangat untuk terus belajar dan memperkaya pengalaman bisa diperoleh dari titik mulai yang benar. Ketika memutuskan menjadi pengusaha dari mana sih kita harus mulai?

Banyak orang bingung harus memulai dari mana. Tapi pernah nggak kita berpikir, jangan-jangan harusnya kita tidak mulai dari pertanyaan itu. Bisa jadi kita harus mulai dari pertanyaan, “Di mana tujuan akhir kita?”

“Pertanyaannya bukan dari mana kita mulai, tapi di mana kita ingin berakhir. Tujuan akhir kita tuh mau ke mana? Ketika tahu tujuannya mau ke mana, tidak masalah mau mulai dari mana pun,” jelas Theo Lekatompessy yang saat ini menjabat sebagai President Director PT Humpuss Intermoda Transportation Tbk.

Kalau sudah tahu tujuannya mau apa, selanjutnya kita harus tahu ukuran kesuksesan kita sendiri. Kita harus mendefinisikan kesuksesan yang ingin diraih.

“Sebagai pengusaha kita harus tentukan ukuran kesuksesan kita. Anda ingin dikenal karena kaya atau karena baik. Anda ingin jadi rich guy atau prominent guy,” ujar Theo.

Ketika kita tahu tujuan akhirnya dan di mana kita harus berhenti, maka dari itu tidak masalah dari manapun kita mulai. Karena titik mulai seseorang itu sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan kondisinya saat itu.

“Kita semua ini kan berbeda. Saya tidak bisa paksakan semua orang sama dengan saya. Tapi kalau kita punya tujuan yang sama, dari manapun kita mulai nantinya kita pasti akan bertemu di titik tujuan tersebut,” jelas peraih gelar master dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) ini.

Entrepreneur Harus Punya 3 Hal

Kalau tujuan sudah punya, apa lagi sih harus harus dimiliki seorang entrepreneur? Menurut Theo, untuk menjadi seorang entrepreneur yang sukses, seseorang perlu memiliki tiga hal, yaitu teman, kemampuan, dan attitude.

“Karena kita punya teman maka ada order masuk. Karena kita punya kemampuan, maka kita bisa men-deliver order tersebut. Karena kita punya attitude yang baik, maka ada repeat order. Sebenarnya ada satu hal lagi, yaitu nasib. Nah, nasib ini kuasanya Tuhan,” jelas Theo.

Tiga hal tersebut adalah hal yang mutlak dimiliki, karena masing-masing saling melengkapi. “In order to be irreplaceable one must always be different,” begitu kata Coco Chanel. Nah, untuk memberikan sesuatu yang berbeda, kita harus memiliki kemampuan yang baik di bidang yang digeluti.

Namun, kemampuan itu harus didukung oleh attitude yang baik. “Attitude is a little thing that makes a big difference,” kata Winston Churchill. Tanpa attitude yang baik, orang mungkin bakal kapok berbisnis dengan kita. Terakhir, kedua hal tersebut perlu diikuti dengan network yang kuat.

Kita semua tentu tahu, betapa kuatnya word of mouth. Tanpa jaringan yang luas sulit rasanya menciptakan word of mouth yang juga luas, apalagi kalau bisnis kita adalah bisnis baru. Itu makanya kita perlu punya banyak teman.

Pahami Filosofi Bola

Ketika sudah memutuskan menjadi pengusaha, maka kita harus punya satu sikap, yaitu pantang menyerah. “Tips dari saya buat para pengusaha muda adalah never surrender,” begitu kata Theo.

Untuk itu, kita bisa belajar dari filosofi bola. “Selama pluit menit ke-90 itu belum ditiup, permainan belum berakhir. Kalaupun sudah ditiup, masih bisa ada perpanjangan 2×15 menit. Kalau waktu perpanjangan sudah habis, masih ada adu penalti. Kalau kalah juga, itu karena Tuhan menentukan begitu,” jelas Theo.

Dari sepak bola kita juga bisa belajar bagaimana berjuang secara sportif. “Sepak bola itu pertandingan, bukan sekadar permainan. Kita harus berjuang untuk memenangkan pertandingan. Main boleh cantik, kalau kebobolan gol mau bilang apa? Bertanding boleh menang, tapi kalau permainan kita kotor, penonton juga nggak akan suka,” lanjutnya.

Namun, kalaupun setelah berjuang kita tetap kalah, kita masih bisa bertanding di pertandingan selanjutnya. “It’s not a matter how to win a battle, but how to win the war,” begitu kata Theo.

Ketika kita menjadi pengusaha, bukan soal menenangkan sebuah pertempuran di pasar, melainkan tentang memenangkan perang di pasar. Pertanyaannya, siapkah Anda untuk itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s